
Kondisi bentang tengah flyover Air Hitam di Samarinda yang jatuh saat hendak dipasang.
JawaPos.com- Bentang tengah flyover Air Hitam di Samarinda jatuh saat hendak dipasang, Kamis (5/11) malam. Diduga sling di sisi Jalan Juanda putus. Kejadian itu disaksikan Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang bersama wakilnya, Nusyirwan Ismail.
Bentang mulai diangkat sekitar pukul 22.00 Wita. Saat diangkat, bentang berukuran 60 meter x 9 meter itu sempat bertahan sekitar 15 menit di udara. Lalu, beton puluhan ton itu jatuh menggelegar. Debu beterbangan. Jaang dan Nusyirwan tak berbicara sepatah kata pun. “No comment,” ucap Nusyirwan.
Kontraktor Pengawas dari CV Perentjana Djaja, Taufiq Reynaldi, menerangkan bahwa bentang jatuh karena sling putus. Dia enggan menjawab mengenai dugaan kesalahan teknis. Dia menuturkan, pihaknya masih berdiskusi untuk mengevaluasi peristiwa semalam.
Belum diketahui pula, bentang jatuh dari ketinggian sekitar 2 meter itu tetap digunakan atau tidak. Namun, untuk mendatangkan badan jalan baru, perlu waktu sebulan.
Simpang empat Air Hitam ditutup sejak September. Sebelumnya, Safety, Health, Environment PT Wijaya Karya, Agus Zaini, menerangkan bahwa sebelum diangkat, alat pengangkat bentang diperiksa Dinas Tenaga Kerja terlebih dahulu. “Mau dilihat item portal itu baik atau belum. Jadi, belum diangkat bukan karena telat,” ucap dia, Rabu (4/11).
Alat itu memiliki loading test. Bentang diangkat setinggi 1 meter kemudian diamati selama sejam. Pengamatan untuk mengetahui ada perubahan struktur atau tidak di alat pengangkat dan tali sling. Dia menjelaskan, progres proyek sekitar 77 persen. “Bila tak ada perubahan struktur, baru kami angkat. Uji itu untuk melihat struktur dan tingkat kestabilan,” jelas dia.
Bentang yang dipasang berukuran 60 meter dengan lebar 9 meter. Total balok cor model T berjumlah 28 buah. Balok merupakan bentang tengah terpanjang dalam pembuatan flyover yang pernah dikerjakan di Indonesia. Selain itu, tak ada pilar penyangga. Agus menyebut, hal tersebut merupakan pekerjaan tersulit dan sangat krusial.
Proyek yang dikerjakan sejak Mei tahun lalu itu ditarget rampung akhir Desember. Progres setidaknya sudah 70 persen. Dia berupaya proyek tersebut tidak molor. Kalaupun terjadi, bakal diadendum. “Bergantung di lapangan. Kalau karena pembebasan lahan, kami adendum. Tapi kalau kendala di lapangan, kami upayakan tidak terlambat,” tegas dia.
Setelah kejadian semalam, pekerja menutup bentang dengan terpal. Sebagian lagi mengelas bagian atas bentang. Semua pekerja juga memilih bungkam.
Kontrak pekerjaan yang menghubungkan Jalan Juanda dengan Jalan AW Sjahranie tersebut berakhir pada 6 November 2015. Dibangun sepanjang 610 meter dan dikerjakan PT Wijaya Karya dengan total nilai kontrak Rp 116 miliar. (*/hdd/wwn/jpg)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
