Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 Januari 2019 | 20.50 WIB

Saran Buya Syafii Maarif untuk Ba'asyir: Tunduk Konstitusi Lah

Buya Syafii Maarif saat menghadiri Seminar Internasional di Balai Senat UGM, Jumat (25/1). - Image

Buya Syafii Maarif saat menghadiri Seminar Internasional di Balai Senat UGM, Jumat (25/1).

JawaPos.com- Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif angkat bicara soal polemim pembebasan bersyarat terpidana kasus terorisme, Ustad Abu Bakar Ba'asyir. Harus ada solusi untuk menyikapi kondisi Ba'asyrir. Bagaimanapun caranya, kondisi kesehatan Ba'asyir juga tidak bisa dikesampingkan.


"Memang dilematis, dia sudah sakit, tua. Saya belum tahu solusinya ini, tapi harus ada solusi," ucapnya saat menghadiri seminar internasional bertajuk Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara untuk Dunia di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, Jumat (25/1).


Di mata Buya, Ba'asyir hanya orang biasa. Yang dikhawatirkan, nanti apabila Ba'asyir tiada di dalam penjara. Kemungkinan akan memberikan efek bagi para pengikutnya.


"Dia (Ba'asyir) biasa saja, tapi yang ditakutkan kalau seumpama dia meninggal di penjara. Itu nanti pengikutnya akan ngamuk. Di Mesir terjadi juga seperti itu, tokoh radikal yang meninggal di penjara. Pemerintah akhirnya menyesal," tambahnya.


Buya menyarankan agar Ba'asyir berlapang dada. Sebagai warga negara Indonesia, menurutnya Ba'asyir juga harus tunduk dengan konstitusi.


"Saya berharap pak Abu Bakar Ba'asyir itu agak berlapang dada lah. Dia warga negara kita, tunduk ke konstitusi lah. itu harapan saya. Nggak tahu bagaimana caranya, tapi harus ada penyelesaian," lanjutnya.


Sebelumnya pemerintah berencana membebaskan Abu Bakar Ba'asyir. Namun muncul polemik karena yang bersangkutan tidak mau menandatangani sumpah setia terhadap Pancasila dan NKRI.


Buya mengatakan, sikap Abu Bakar Ba'asyir itu sudah sejak 1980an. Pengsuh Ponpes Al Mukmin, Ngruki menganggap benar sendiri.


"Dia sudah bersikap seperti itu (menang sendiri) sejak tahun 80an. Dia nggak mau menerima pendapat lain. Dia merasa benar sendiri, semestinya di negara Pancasila sebagai warga negara yang sadar, dia harus terima dong. Apa keberatannya tanda tangan itu, atau dia tidak tinggal di sini," pungkasnya.

Editor: Dida Tenola
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore