
Sejumlah pesepeda di depan rumah joglo Desa Wisata Kelor, Bangunkerto, Turi, Sleman.
JawaPos.com–Desa Wisata Kelor, Bangunkerto, Turi, Sleman, sempat menjadi perhatian publik. Sayangnya, bukan karena destinasi wisata yang jadi atensi publik. Namun, penemuan potongan tubuh korban mutilasi. Kelor pun menjadi kondang.
Kawasan Kelor menjadi desa wisata sejak 2006. Ada rumah joglo yang sarat nilai sejarah. Kala zaman penjajahan, joglo itu dijadikan markas Tentara Pelajar. Keberadaan joglo tersebut memunculkan inisiatif warga Kelor menjadikan daerahnya sebagai desa wisata.
Ketua Desa Wisata Kelor Endra Harwanta mengungkapkan, rumah joglo menjadi destinasi yang paling ditonjolkan. Selain itu, dikembangkan wisata kuliner dan kebun salak.
”Kami punya sungai yang bisa dijadikan sebagai kegiatan susur sungai dan ada outbound. Ya, memang belum begitu besar,” kata Endra Harwanta kepada Radar Jogja (grup JawaPos) Kamis (27/7).
Rumah joglo di Kelor bukan museum. Kini dimanfaatkan seperti rumah singgah. Menurut Endra Harwanta, ada beberapa barang dari rumah joglo yang dibawa ke Benteng Vredeburg, Jogjakarta. Itu karena memiliki nilai sejarah ketika Indonesia masih dijajah Belanda dan Jepang. Di antaranya, sepeda onthel dan lampu.
Harwanta menyebut, biasanya banyak pengunjung pada weekend atau hari libur. Mayoritas pengunjung rombongan pelajar, mahasiswa, dan instansi. Namun, kini jumlah pengunjung mengalami penurunan. Salah satu sebabnya yakni penemuan potongan tubuh di Kelor yang menjadi perhatian publik.
”Biasanya minggu-minggu ini sudah ada yang booking, kok sekarang belum ada yang booking,” tambah Endra Harwanta.
Sebelumnya, ditemukan potongan tubuh manusia di Turi, Sleman, pada pertengahan Juli. Potongan tubuh mayat manusia itu diduga merupakan korban mutilasi.
Potongan tubuh manusia itu pertama kali diketahui warga yang hendak memancing. Lokasi di sungai di bawah jembatan Padukuhan Kelor, Bangunkerto, Turi, Sleman. Polda Jogjakarta telah menangkap dua pelaku. Mereka adalah Waliyin dan RD.
Harwanta menyatakan, sungai yang menjadi lokasi penemuan pertama potongan tubuh itu menjadi perhatian pengunjung. Hal itu karena ada wahana susur sungai di Kelor. Wahana itu sering digunakan wisatawan.
Pengunjung menanyakan lokasi yang menjadi susur sungai sama atau tidak dengan lokasi penemuan potongan tubuh tersebut.
”Ya, sama. Tetapi, kan lokasi susur sungai di atas, di bawah jembatan itu. Pelaku (mutilasi) hanya membuang lalu pergi. Pelaku bukan warga Kelor,” tegas Harwanta.
Dia tidak mengetahui jumlah pasti penurunan pengunjung. Tetapi, pengelola terus berupaya agar kunjungan kembali naik. Salah satunya melakukan sosialisasi secara langsung ke pengunjung dan media sosial. Intinya, menyampaikan bahwa Padukuhan Kelor hanya dijadikan lokasi pembuangan. Kelor bukan tempat pelaku melakukan mutilasi.
Bahkan, kedua pelaku bukan warga Kelor. Tidak ada kaitan Kelor dengan para pelaku atau korban mutilasi.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
