Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Maret 2017 | 16.55 WIB

Berharap Pada Tuhan Demi Kesejahteraan Umat dan Bangsa

Umat Hindu Batam melangsungkan ritual Melasti di Dam Sei Ladi, Minggu (26/3). - Image

Umat Hindu Batam melangsungkan ritual Melasti di Dam Sei Ladi, Minggu (26/3).

Menjelang hari raya Nyepi, umat Hindu menjalani ritual Melasti atau bersih-bersih. Hampir di seluruh penjuru dunia umat Hindu melangsungkan ritual itu, termasuk di Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).


FARADILLA, Batam


Barisan panjang, penuh kehikmatan dengan membawa berbagai perangkat keagaman di tangannya berarak menuju lokasi upacara Melasti. Barisan lelaki menggunakan udeng. Sementara para perempuannya menghias diri, mengenakan kebaya terbaik mereka. Beberapa di antara mereka menggunakan bunga untuk memercantik mahkotanya.


Tua maupun muda, langkahnya tak jauh berbeda. Tak saling mendahului, teratur dengan arah yang telah pasti. Sei Ladi dijadikan sebagai lokasi upacara melasti, Minggu (26/3).


Menjelang hari besar agama Hindu, hari raya Nyepi, Melasti merupakan bagian dari rangkaiannya. Upacara Melasti ini sebagaimana dijelaskan Pinandite Putu Satria Yasa, pemangku Pura Agung Amerta Buana, merupakan momen sakral.


Tak hanya membersihkan sarana upacara. Dalam doa yang dihanturkan, termasuk diantaranya pengharapan umat Hindu. Mengudara doa dari pemangku, sebagaimana aroma dupa khas yang mengitari prosesi upacara ini.


Pembersihan sarana upacara seperti arca dan senjata, dijelaskan Putu Satria dibersihkan dalam berbagai kesempatan. "Tapi kalau Nyepi yang merupakan hari besarnya, pembersihannya lebih detail lagi," Putu Satria menerangkan usai mempersiapkan beberapa hal di puranya.


Media air, lanjutnya, menjadi hal paling utama dalam upacara melasti ini. Air dipercaya menjadi media pembersihan. Sehingga dapat mensucikan. "Segala kotoran dilebur di laut dan menjadi kembali bersih," sambungnya.


Seluruh pemeluk agama Hindu terlibat dalam upacaranya. Sehingga mampu menyambut hari raya Nyepi secara utuh. Ribuan umat Hindu yang berdiam di Batam ini lantas berjalan sepanjang kurang lebih 3 km, jarak dari pura menuju Dam Sei Ladi. Mengenakan atasan putih dengan bawahan yang ditutup balutan kain, mereka berjalan dambil diiringi dentuman gong, dentingan lonceng, dan bunyi-bunyian lainnya.


Kehadiran barong dan leak, juga memberikan warna sendiri pada rombongan yang berjalan jelang matahari mulai tenggelam. Rombongan menuju melasti pun turut menarik perhatian banyak orang. Pelintas sibuk mengeluarkan gawainya. Terlebih fotografer, yang beramai ramai mengambil tradisi khas Bali untuk diabadikan.


Sesampai di lokasi, goyangan lonceng yang hanya dimiliki oleh pemangku tak lantas berhenti. Doa-doa pun kian kencang dialunkan. "Inti upacara ini terletak pada doanya. Berharap dengan Tuhan. Dan juga mengharap kesejahteraan seluruh umat dan kesatuan bangsa," tutur Putu Satria.


Dalam perayaan Nyepi Tahun Saka 1939, tema yang digaungkan umat Hindu se-Indonesia sama. Momentum penyucian diri ini diharapkan kian memperkukuh kesatuan dalam bingkai kebhinekaan. Semangat menjaga kerukunan ini yang ditanamkan kepada seluruh umat Hindu di Indonesia.


"Agama adalah cara manusia mendekatkan diri pada Tuhannya, pada semestanya. Dan sebagai sesama manusia kita harus saling mencintai dan mendukung satu sama lain," pungkas Putu. Ritual Melasti pun diakhiri seiring matahari yang kian tak tampak lagi di ufuk barat. (***/iil/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore