Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 April 2017 | 16.56 WIB

Sopir Bus Maut Puncak Bogor Jadi Tersangka, Ternyata Tak Bawa SIM

Tabrakan Beruntun di Puncak Bogor, Libatkan Belasan Kendaraan - Image

Tabrakan Beruntun di Puncak Bogor, Libatkan Belasan Kendaraan

JawaPos.com - Polisi mengusut kecelakaan beruntun yang menelan 4 korban jiwa di di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Sopir bus pariwisata HS Transport bernama Bambang Hernowo (51) diamankan polisi untuk dimintai keterangan. Dari hasil pemeriksaan Polres Bogor menetapkan Bambang sebagai tersangka, tadi malam (22/4).

“Setelah menjalani pemeriksaan, sopir bus kami kenakan pasal 310 KUHP dengan ancaman hukuman penjara enam tahun,” kata Kepala Unit Laka Lantas Polres Bogor Iptu Asep Saepudin kepada Radar Bogor.

Asep mengatakan, Bambang tidak bisa menunjukkan Surat Izin Mengemudi (SIM). “Dia mengaku memiliki SIM, tetapi belum menunjukkannya kepada kami,” sambungnya. Hingga tadi malam, Bambang masih menjalani pemeriksaan intesif. Polisi juga meminta keterangan sejumlah saksi.

Sementara itu, kecelakaan sering terjadi di Tanjakan Selarong di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Di lokasi ini juga ada jembatan yang kerap memakan korban jiwa. Tragedi kecelakaan maut besar yang pada 1980-an menewaskan puluhan orang dialami bus PO Lorena jurusan Jakarta-Bandung. Bus masuk ke dasar Sungai Ciliwung setelah sebelumnya menabrak pagar jembatan Gadog.

Pada Sabtu 15 November 2014 lalu kecelakaan maut juga mengakibatkan tewasnya calon anggota Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). Korban Robi Sirait, Guntur Siregar dan Riki Paskalisi merupakan mahasiswa pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta yang hendak mengikuti pelatihan di Megamendung.

Kecelakaan maut juga melibatkan bus TNI di jalur tersebut, Minggu 6 Desember 2015 lalu. Peristiwa menewaskan tiga orang, salah satunya mahasiswa Universitas Yarsi. Kejadian berikutnya Minggu 14, Februari 2016, bus mengangkut rombongan pesantren hilang kendali di tanjakan tersebut dan menabrak truk engkel, dua mobil pribadi dan dua motor. Dua orang tewas dan belasan lainnya luka-luka.

Jalur tersebut memang rawan kecelakaan. Kondisi jalur menurun tajam dengan dua jalur berbeda. Untuk jalur ke arah Puncak ataupun Bogor dipisahkan taman dan sebuah monumen perjuangan Bogor. Masyarakat setempat menamakan jalur Tanjakan Selarong. Nama tanjakan diambil sebab tidak jauh dari lokasi terdapat Hotel Selarong.

Jika hari libur panjang, Tanjakan Selarong menjadi salah satu titik kemacetan di kawasan Puncak. Tak heran kendaraan tidak kuat menanjak banyak yang mogok. Sebaliknya saat arus lalu lintas kosong atau sedang diberlakukan satu arah dari Puncak ke Jakarta, jalur ini rawan, lantaran mobil terutama bus atau truk kerap rem blong hingga terbalik.


Selepas turunan Selarong, kondisi jalan berbelok tajam kekiri kemudian mengarah lurus ke jembatan Gadog. (ran/rah/c/yuz/JPG)

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore