
Universitas Palangka Raya
JawaPos.com - Pemberian hadiah dari seorang pemimpin terhadap rakyatnya memang sangat berarti bagi pihak yang menerima hadiah tersebut.
Namun hal ini tidak berlaku bagi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Palangka Raya (UPR), Jimmy Balantikan Sumbada bersama wakilnya Syeba Ferea Mangkuwungan. Mereka terpaksa menjual sepeda hadiah dari Presiden Joko Widodo demi adanya perubahan di kampusnya.
Perjuangan Jimmy dan Syeba bertemu dengan Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir tidak mudah. Berbagai macam kendala dan tantangan harus dilalui oleh mereka agar permasalahan kampus tidak terus menerus tanpa arah yang jelas. Walau harus merelakan menjual sepeda pemberian Jokowi yang tentunya memiliki nilai tersendiri dan akan menjadi sejarah yang bisa dibanggakan.
Sepeda berwarna putih merek Polygon Preimer 3 tak lagi terparkir di Sekretariat BEM UPR sejak Kamis (19/10) lalu. Biasanya, sepeda pemberian Presiden Jokowi tersebut selalu terparkir manis di depan sekretariat BEM. Pasalnya, sepeda tersebut digunakan oleh pengurus BEM UPR guna keperluan organisasi.
Namun sepeda tersebut harus dijual seharga Rp 2.500.000 untuk bisa berangkat ke Jakarta guna mengadukan permasalahan pendidikan di kampus mereka.
“Meski sepeda itu saya yang dapat, namun itu merupakan sepeda inventaris BEM. Sepeda itu terpakir di BEM dan bebas siapa saja yang ingin menggunakan,” ucap Syeba saat diwawancarai awak media, dilansir dari Kalteng Pos (Jawa Pos Group).
Dia mendapatkan sepeda tersebut setelah ikut kegiatan di Istana Bogor dan berhasil menjawab pertanyaan dari presiden mengenai Pancasila. Dia memberanikan diri mengacungkan tangan agar presiden tahu bahwa ada perwakilan dari Kalteng juga ikut hadir dalam kegiatan tersebut.
Sebenarnya, kenekatan Jimmy dan Syeba pergi ke Jakarta bermula terjadinya polemik pemilihan Rektor UPR yang tak kunjung diselenggarakan. Tentunya secara tidak langsung akan memengaruhi pendidikan di kampus.
BEM mengetahui ada kejanggalan dalam proses pemilihan rektor karena berdasarkan surat dari Kemenristekdikti tanggal 4 Oktober dengan nomor 4296/A.A2/KP/2017, memerintahkan agar anggota senat dipilih ulang karena dinilai melanggar statuta yang telah ditetapkan.
Namun hingga tanggal 19 Oktober, mereka tidak melihat hal tersebut diperbaiki sesuai perintah Kemenristekdikti. Untuk itu, mereka nekat berangkat ke Jakarta pada tanggal 20 Oktober dengan menjual sepeda hadiah dari Jokowi pada Agustus 2017 lalu.
“Kami ada tujuan lain, tidak hanya ikut aksi memperingati 3 tahun Jokowi-JK. Kami ingin mengadukan pemilihan rektor karena ada indikasi malaadministrasi. Surat yang dikeluarkan kementerian pada 4 Oktober belum ditindaklanjuti oleh rektor,” ucap Presiden BEM UPR Jimmy Balantikan saat ditemui di halaman Sektretariat BEM UPR, belum lama ini.
Dia bercerita, Senin pagi (23/10) mereka berangkat naik Grab dari Tangerang ke Kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) Kemenristekdikti yang terletak di MH Thamrin, Jakarta Pusat. Namun saat tiba sekitar pukul 11.30 WIB, pihak keamanan yang ada di gedung tersebut mengatakan menteri berada di gedung Kemenristekdikti di Jalan Jenderal Sudirman Senayan. Dengan kata lain, mereka salah alamat.
Padahal jarak dua lokasi tersebut tidaklah dekat. Macet Jakarta yang terkenal seantero negara itu tetap tak membekukan langkah mereka. Tak kenal kata menyerah, mereka berdua bergegas kembali memesan Grab menuju Senayan agar segera bertemu dengan menteri dan mengungkapkan segala keluh-kesah mereka terkait kampus tercintanya.
Perjalanan menuju gedung Kemenristekdikti di Jalan Sudirman Senayan tersebut ternyata tidak lancar seperti yang diperkirakan. Mereka berdua mengalami kendala lagi. Jalanan di sekitar Stadion Gelora Bung Karno macet dan membuat mereka was-was. Matahari kian bergerak ke arah Barat. Waktu kian terbuang di dalam mobil dan jarum jam terus berputar. Tak tahan melihat kemacetan, mereka memutuskan keluar dari Grab dan memilih berjalan kaki menuju gedung kementerian.
Jarak antara tempat mereka turun di sekitar Stadion Gelora Bung Karno ternyata masih 3 kilometer. Langkah demi langkah mereka jalani di bawah terik matahari tanpa mengenakan jaket dan membawa beban berat.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
