Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Agustus 2026 | 17.18 WIB

Korban Gempa di Desa Latung NTT: Bantuan Pemerintah Nihil, Anak-Anak dan Lansia Terserang Penyakit

Kondisi memperhatikan warga Kampung Tonggong, Desa Latung, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, NTT, terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat yang dibuat sendiri pasca gempa. (Nikolaus Tolen untuk JawaPos.com) - Image

Kondisi memperhatikan warga Kampung Tonggong, Desa Latung, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, NTT, terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat yang dibuat sendiri pasca gempa. (Nikolaus Tolen untuk JawaPos.com)

JawaPos.com - Pasca gempa bumi yang mengguncang kawasan Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), warga di Desa Latung, Kecamatan Cibal Barat, harus berjuang bertahan hidup dalam kondisi serbaterbatas.

Hingga saat ini, pasokan bantuan resmi dari pihak pemerintah belum merata dan belum menjangkau kawasan permukiman mereka.

Akibatnya, kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia mulai mengalami gangguan kesehatan serius akibat paparan cuaca ekstrem di tempat pengungsian yang mereka bangun mandiri.

Kondisi geografis dan guncangan gempa susulan yang masih terus berulang memaksa masyarakat setempat enggan beraktivitas di dalam rumah.

Bangunan yang mengalami kerusakan struktural retak hingga roboh total membuat warga terpaksa mendirikan tenda mandiri dengan perlengkapan seadanya di depan rumah.

Satu Tenda Disesaki Hingga Tiga KK, Bantuan Pemerintah Masih Nihil

Ketersediaan tenda darurat yang minim membuat pola pengungsian di Desa Latung jauh dari kata layak. Warga terpaksa memanfaatkan bahan bangunan sisa dan bantuan swadaya seadanya dari pihak swasta maupun LSM lokal yang jumlahnya terbatas.

"Kalau di kampung saya ini bahkan ya baru satu atau dua terpal yang ada dari bantuan itu. Ya ada yang gabung 1 sampai 2, 3 KK (dalam satu tenda). Karena memang sesuai dengan bahan yang kita miliki, yang kita punya," ujar Nikolaus Tolen, salah seorang warga terdampak di Kampung Tonggong, Desa Latung, kepada JawaPos.com, Rabu (26/8).

Niko menambahkan, kecemasan warga bertambah karena frekuensi gempa susulan yang belum mereda.

"Sebenarnya masih layak untuk dihuni tapi karena sering muncul gempa susulan itu yang kita takut, makanya tidak pernah tidur dalam rumah lagi," lanjutnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore