KH. Abdussalam Shohib atau Gus Salam. (Istimewa)
JawaPos.com - Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU semakin dekat. Bursa calon ketua umum PBNU pun terus dibahas. Salah satu calonnya, Abdussalam Shohib dianggap layak memimpin ormas terbesar di Indonesia itu.
Syarat menjadi calon ketua umum terdapat dalam ART-NU, Bab XIII, pasal 39 disebutkan syaratny harus berpengalaman dalam struktur NU, dan sudah pernah mengikuti pendidikan kaderisasi Nahdlatul Ulama. Demikian juga ditentukan Perkum Nomor 3 tahun 2025 tentang syarat menjadi fungsionaris pengurus Nahdlatul Ulama.
Sejumlah kandidat belakangan telah mengikuti Pendidikan Menengah Kepemimpinan NU (PMKNU). Diantaranya, KH Yusuf Chudlori, KH Imam Jazuli, dan KH Miftah Maulana Habiburrahman yang mengikuti PMKNU di Cirebon Raya pada 13-17 Mei 2026.
Lalu KH Abdussalam Shohib mengikuti PMKNU Soloraya pada 10-14 Juni 2026. Dalam PMKNU ini juga diikuti oleh Rektorat UIN RM Said, Toto Suharto dan Abdullah Faishol.
“Keikutsertaan Gus Salam dalam PMKNU Soloraya, menjadikan suasana pendidikan selama 5 hari tambah hidup dan bersemangat, baik didalam kelas, diskusi kelompok maupun saat rehat,” kata peserta PMKNU Soloraya, Syaifuloh Yusuf, Rabu (17/6).
“Ia sangat akrab dengan peserta lainnya. Dan, pandai menciptakan kehangatan kelas pendidikan dengan gaya humor dan celetukannya yang khas dan bikin geer, tertawa lepas para peserta PMKNU lainnya,” sambungnya.
Syaifuloh menuturkan, sejak awal pendidikan dimulai, Gus Salam telah ditunjuk secara aklamasi oleh 83 peserta PMKNU sebagai ketua kelas.
“Gus Salam mengikuti semua sesi kegiatan, termasuk olah fisik setelah sholat Subuh. Ia humble, tidak menampilkan sosok cucu pendiri NU. Cenderung seperti kebanyakan peserta yang lain,” imbuhnya.
Gus Salam dikenal sebagai sosok yang berpikiran terbuka. Karakter seperti ini dianggap layak memimpin PBNU.
“Bahkan, pada sambutan kelulusannya, Gus Salam sempat bernadzar; kalau dipercaya dan ditakdirkan menjadi Ketua Umum PBNU, akan mengajak semua peserta, instruktur dan tim assistensi PMKNU untuk study tour ke PP Al-Ittifaq Ciwedey, Bandung,” jelas Syaifuloh.
PP Al-Ittifaq, sambungnya, telah menjadi pesantren agribis percontohan di lingkungan NU. Tidak sebatas pesantren pada umumnya yang mengajarkan paham-paham keagamaan berbasis kitab kuning, tapi juga mengajarkan kemandirian kepada santri di bidang pertanian dan perdagangan. Bahkan, al-Ittifaq membangun kemitraan agribis dengan 9 kelompok tani di beberapa kabupaten sekitar.
“Gus Salam ingin meneladankan pentingnya saling belajar untuk maju dan saling menguatkan kemandirian ekonomi, baik dilingkungan pesantren, jam’iyyah NU, santri dan para alumni serta kemandirian ekonomi umat,” pungkasnya.