
Ilustrasi belajar sejarah. (Freepik)
JawaPos.com - Pemahaman sejarah dinilai menjadi faktor penting dalam membentuk perspektif kebangsaan generasi muda di tengah derasnya arus informasi global dan dinamika geopolitik dunia. Sejarah tidak hanya berfungsi sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai landasan untuk memahami proses berdirinya negara, peran institusi nasional, serta tantangan yang dihadapi bangsa.
Presiden RI Prabowo Subianto belum lama ini menyinggung pentingnya kewaspadaan terhadap provokasi dan operasi informasi yang dapat membentuk persepsi publik secara keliru, salah satunya lewat skema false flag operation.
Prabowo menjelaskan bahwa false flag operation merupakan taktik yang dirancang untuk mengalihkan tuduhan kepada pihak tertentu guna membentuk opini publik.
Namun, dalam konteks demokrasi, ia menilai ruang kritik tetap terbuka dan menjadi bagian dari sistem yang berjalan. “Kalau orang bebas mengkritik di media sosial, itu artinya demokrasi kita hidup,” ujarnya.
Dengan pemahaman yang komprehensif, masyarakat diharapkan mampu menyikapi berbagai isu secara kritis, proporsional, dan berlandaskan kepentingan bangsa. Pemahaman sejarah yang kuat dapat membantu generasi muda melihat persoalan bangsa secara lebih utuh dan kritis.
“Generasi muda saat ini banyak yang miskin pengetahuan sejarah. Mereka harus belajar dari proses berdirinya negara ini dan memahami peran TNI. Jangan sampai justru menjadi agen asing yang menyuarakan kepentingan terselubung,” kata Pendiri Pemuda Panca Marga sekaligus penggagas Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), Joesoef Faisal Husainsyah dalam keterangan tertulisnya.
Menurutnya, pembelajaran sejarah penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh narasi global yang belum tentu sesuai dengan kepentingan nasional. Ia juga mengingatkan bahwa berbagai konflik di sejumlah negara dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas nasional.
Joesoef menekankan bahwa pemahaman terhadap isu hak asasi manusia, demokrasi, dan kepentingan nasional perlu ditempatkan secara seimbang dengan perspektif kebangsaan.
“Prinsipnya jelas: right or wrong is my country. Yang baik kita pertahankan, yang kurang kita perbaiki, bukan justru menjatuhkan bangsa sendiri,” tambahnya.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Jeritan Puluhan Tenaga Kesehatan PPPK Paruh Waktu di Balai Kota DKI: Gaji Ke-13 Tak Cair
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
