
Pascabencana, sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh masih terus berbenah. (Istimewa)
JawaPos.com - Kementerian Agama (Kemenag) menyalurkan bantuan senilai sekitar Rp 50 miliar untuk penanganan dampak banjir di sejumlah wilayah Aceh hingga Sumatera Utara.
Bantuan tersebut berasal dari Rp 37 miliar anggaran Kemenag dan sekitar Rp 13 miliar dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun melalui BAZNAS serta Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Penyaluran bantuan dilakukan selama lima hari, mencakup wilayah Pidie Jaya, Bireuen, Langsa, Aceh Tamiang, hingga Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kemenag menggandeng Forum Zakat (FOZ) untuk mengoordinasikan distribusi bersama BAZNAS dan LAZ di lapangan.
Bantuan yang disalurkan meliputi paket sembako, air bersih, dapur umum, perlengkapan ibadah, selimut, kasur, genset, perlengkapan bayi dan balita, layanan kesehatan, hingga dukungan pemulihan madrasah dan rumah ibadah.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan kehadiran pemerintah dalam penanganan bencana tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan darurat, tetapi juga memastikan proses pemulihan berjalan berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan masyarakat terdampak banjir tidak merasa sendiri. Negara hadir untuk membantu warga kembali pulih, terutama agar anak-anak bisa kembali belajar dan keluarga merasa aman,” ujar Nasaruddin saat meninjau penyaluran bantuan di Bireuen, Aceh.
Sejumlah madrasah dan dayah dijadikan titik distribusi bantuan sekaligus pusat pemulihan aktivitas warga. Selain logistik dasar, Kemenag juga menyalurkan peralatan sekolah, mushaf Al-Qur’an, serta mendukung pembiayaan pembersihan ruang belajar agar kegiatan pendidikan dapat segera berjalan normal.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono Abdul Ghafur, menjelaskan pemanfaatan zakat dalam penanganan bencana mengacu pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 66 Tahun 2022.
“Fatwa tersebut menegaskan zakat dapat digunakan tidak hanya untuk bantuan langsung kepada mustahik, tetapi juga untuk kepentingan kemaslahatan umum dan pemulihan pascabencana, seperti penyediaan air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, hingga pemulihan sosial-ekonomi,” kata Waryono.
Menurutnya, fatwa tersebut menjadi dasar Kemenag dalam mengonsolidasikan FOZ, BAZNAS, dan LAZ agar dana zakat, infak, dan sedekah dapat mendukung pemulihan masyarakat secara jangka menengah dan panjang.
Di wilayah Langsa dan Aceh Tamiang, kebutuhan air bersih menjadi prioritas utama. Puluhan ribu liter air disalurkan melalui tangki air dan water station, sementara dapur umum dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak banjir.
Penyaluran bantuan ditutup di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dengan fokus pada pemulihan madrasah dan layanan kesehatan masyarakat. Kemenag juga melepas relawan lintas lembaga untuk melanjutkan distribusi bantuan ke wilayah terdampak lainnya.
Kemenag menyatakan akan terus memantau kondisi pascabencana serta memastikan dukungan pemulihan bagi masyarakat terdampak banjir di Aceh dan Sumatera Utara berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
