Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 Desember 2025 | 19.41 WIB

Berjibaku Ditembak Gas Air Mata, Rumah Adat Toraja Berusia 300 Tahun Tetap Dirobohkan Ekskavator

Tongkonan Kapun di Kecamatan Kurra, Tana Toraja, Sulsel yang berusia 300 tahun roboh dalam sebuah eksekusi Jumat siang (5/12) (Harian Fajar)

JawaPos.com - Eksekusi lahan di Kecamatan Kurra, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, memuncak menjadi momen paling memilukan bagi warga pada Jumat siang (5/12). Meski sebelumnya mereka bertahan menghadapi tembakan gas air mata dari aparat, rumah adat yang mereka pertahankan alias tongkonan tetap dirobohkan juga.

Rumah adat yang salah satunya berusia 300 tahun itu tetap roboh dihantam ekskavator yang dikendalikan petugas pengadilan. Tradisi, identitas, dan sejarah ratusan tahun ambruk dalam hitungan menit.

Dikutip dari Harian Fajar, Selasa (9/12), putusan Mahkamah Agung telah berkekuatan hukum tetap, dan lahan yang selama ini dihuni turun-temurun dinyatakan harus dieksekusi.

Tak ada badai, tak ada bencana alam, justru besi-besi alat berat yang menumbangkan bangunan adat itu satu per satu. Tak hanya tongkonan berusia 300 tahun, total ada tiga tongkonan, dua rumah semi permanen, dan enam lumbung padi yang kini sudah rata dengan tanah karena eksekusi tersebut. 

Adapun walah satu yang hancur adalah Tongkonan Kapun, rumah adat berusia sekitar 300 tahun yang selama ini menjadi pusat aktivitas keluarga besar serta simbol kehormatan leluhur.

Ekskavator bergerak dari satu bangunan ke bangunan lain, menyisakan serpihan ukiran kayu, tiang yang patah, dan debu yang mengepul. Masyarakat adat sudah bertahan sebisa mungkin menahan perobohan tersebut. Melawan aparat bersenjata gas air mata. 

Sebelum kehancuran itu terjadi, bentrokan lebih dulu pecah. Warga berusaha mempertahankan lahan, sementara aparat keamanan menjalankan perintah pengadilan. Teriakan bercampur dorongan membuat suasana kacau. Letusan tembakan gas air mata membuat warga terpukul mundur.

Belasan orang dilaporkan mengalami luka di kepala, kaki, tangan, dan beberapa bagian tubuh lain.

Meski terluka, sebagian warga memilih tetap bertahan, bersembunyi di balik dinding rumah yang mereka tahu sebentar lagi akan diratakan. Bagi mereka, ini bukan sekadar soal lahan, ini tentang mempertahankan warisan leluhur yang telah hidup ratusan tahun.

Hari itu, Kurra berubah menjadi medan duka. Di satu sisi ada kewajiban hukum yang harus dijalankan; di sisi lain ada warisan budaya yang hilang tanpa bisa kembali. Tongkonan yang biasanya menjadi simbol kehidupan, penanda garis keturunan, dan tempat berkumpul keluarga besar kini tinggal puing.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore