Tongkonan Kapun di Kecamatan Kurra, Tana Toraja, Sulsel yang berusia 300 tahun roboh dalam sebuah eksekusi Jumat siang (5/12) (Harian Fajar)
JawaPos.com - Eksekusi lahan di Kecamatan Kurra, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, memuncak menjadi momen paling memilukan bagi warga pada Jumat siang (5/12). Meski sebelumnya mereka bertahan menghadapi tembakan gas air mata dari aparat, rumah adat yang mereka pertahankan alias tongkonan tetap dirobohkan juga.
Rumah adat yang salah satunya berusia 300 tahun itu tetap roboh dihantam ekskavator yang dikendalikan petugas pengadilan. Tradisi, identitas, dan sejarah ratusan tahun ambruk dalam hitungan menit.
Dikutip dari Harian Fajar, Selasa (9/12), putusan Mahkamah Agung telah berkekuatan hukum tetap, dan lahan yang selama ini dihuni turun-temurun dinyatakan harus dieksekusi.
Tak ada badai, tak ada bencana alam, justru besi-besi alat berat yang menumbangkan bangunan adat itu satu per satu. Tak hanya tongkonan berusia 300 tahun, total ada tiga tongkonan, dua rumah semi permanen, dan enam lumbung padi yang kini sudah rata dengan tanah karena eksekusi tersebut.
Adapun walah satu yang hancur adalah Tongkonan Kapun, rumah adat berusia sekitar 300 tahun yang selama ini menjadi pusat aktivitas keluarga besar serta simbol kehormatan leluhur.
Ekskavator bergerak dari satu bangunan ke bangunan lain, menyisakan serpihan ukiran kayu, tiang yang patah, dan debu yang mengepul. Masyarakat adat sudah bertahan sebisa mungkin menahan perobohan tersebut. Melawan aparat bersenjata gas air mata.
Sebelum kehancuran itu terjadi, bentrokan lebih dulu pecah. Warga berusaha mempertahankan lahan, sementara aparat keamanan menjalankan perintah pengadilan. Teriakan bercampur dorongan membuat suasana kacau. Letusan tembakan gas air mata membuat warga terpukul mundur.
Belasan orang dilaporkan mengalami luka di kepala, kaki, tangan, dan beberapa bagian tubuh lain.
Meski terluka, sebagian warga memilih tetap bertahan, bersembunyi di balik dinding rumah yang mereka tahu sebentar lagi akan diratakan. Bagi mereka, ini bukan sekadar soal lahan, ini tentang mempertahankan warisan leluhur yang telah hidup ratusan tahun.
Hari itu, Kurra berubah menjadi medan duka. Di satu sisi ada kewajiban hukum yang harus dijalankan; di sisi lain ada warisan budaya yang hilang tanpa bisa kembali. Tongkonan yang biasanya menjadi simbol kehidupan, penanda garis keturunan, dan tempat berkumpul keluarga besar kini tinggal puing.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
