Terekam kamera, pengajar pesantren di Palopo melakukan kekerasan ke peserta didiknya. (Instagram/@palopo_info).
JawaPos.com-Kasus dugaan kekerasan kembali mencoreng dunia pendidikan berbasis agama. Seorang qori cilik berusia 14 tahun berinisial MKH diduga mengalami penganiayaan oleh pembina pesantren berinisial Prof SA saat acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Kota Palopo, Jumat (12/9) malam.
Video rekaman CCTV yang beredar luas di media sosial memperlihatkan korban ditampar berkali-kali di hadapan banyak orang. Peristiwa itu menimbulkan kecaman dari masyarakat, terlebih karena terjadi di lingkungan pesantren yang seharusnya menjadi ruang pendidikan dan pembinaan akhlak.
Menurut keterangan keluarga, MKH hadir bukan sebagai santri, melainkan tamu undangan untuk melantunkan ayat suci Alquran. Usai berwudu bersama kakak dan adiknya, MKH berpapasan dengan Prof SA dan berniat bersalaman. Namun, alih-alih disambut hangat, ia justru ditampar keras hingga sempoyongan.
“Ponakan saya bukan santri di situ, dia hanya diundang jadi qori. Waktu mau bersalaman, dia langsung ditampar. Setelah itu penglihatannya gelap, telinganya berdengung, bahkan sempat sempoyongan,” ujar Musdalipa Arif, tante korban, Minggu (14/9).
Tak hanya MKH, salah satu adiknya yang juga hadir ikut menjadi sasaran. Tamparan tersebut membuat wajah korban lebam dan bengkak. Keluarga kemudian membawa MKH ke rumah sakit untuk visum, dan hasilnya telah disertakan dalam laporan ke Polres Palopo pada Sabtu (13/9).
Selain luka fisik, keluarga menyebut korban kini mengalami trauma mendalam hingga enggan kembali mengaji. Musdalipa mengungkapkan, tindakan kasar itu bukan yang pertama kali dilakukan Prof SA. Sejumlah santri menyebut pembina tersebut dikenal mudah marah dan kerap melakukan kekerasan fisik.
“Anak-anak bilang kalau dia marah suka membabi buta, langsung memukul atau menampar. Jadi ini bukan pertama kali,” jelas Musdalipa.
Kasus di Palopo ini menambah panjang daftar kekerasan di lingkungan sekolah dan pesantren yang belakangan kerap mencuat ke publik. Lembaga pendidikan yang semestinya menjadi ruang aman bagi anak-anak justru kerap menyisakan cerita kelam tentang intimidasi, hukuman fisik, hingga pelecehan.
Keluarga korban berharap aparat kepolisian memproses kasus ini secara transparan tanpa pandang bulu. “Jangan karena dia punya titel atau jabatan lalu dianggap sepele. Kekerasan pada anak tidak bisa dibenarkan,” tegas Musdalipa.
Hingga kini, Polres Palopo masih mendalami laporan tersebut. Publik menanti langkah tegas aparat penegak hukum, sekaligus mendorong evaluasi serius terhadap pola pembinaan di pesantren agar tidak lagi menjadi ruang subur bagi praktik kekerasan. (*)

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
