Sound Horeg
JawaPos.com - Ramai di media sosial oleh konten FYP yang menampilkan karnaval dan pawai dengan iringan sound system bervolume suara tinggi, yang dikenal sebagai sound horeg.
Sound horeg merupakan hiburan khas masyarakat khususnya di wilayah Jawa Timur. Ciri khasnya adalah suara dengan volume yang sangat tinggi, sound system bertumpuk di atas truk, lampu warna-warni yang menyala, dan umumnya diiringi penari yang mengikuti irama musik dari sound horeg.
Meski identik dengan budaya karnaval di daerah seperti Banyuwangi, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Malang, sound horeg juga sudah sering digunakan dalam berbagai acara seperti pesta pernikahan, ulang tahun, sampai kampanye politik.
Sound horeg ini tengah menuai pro kontra. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim bahkan sempat mengeluarkan fatwa haram terkait penggunaan sound horeg. Sejumlah video viral juga tengah memperlihatkan efek suara dari sound horeg yang begitu kencang, sampai merontokkan genteng warga dan membuat dinding rumah bergetar.
Disamping itu, sound horeg juga dianggap sebagai kearifan lokal yang perlu ditata dengan bijak. Selain memberikan hiburan bagi masyarakat, sound horeg juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil yang terlibat dalam penyewaan alat, dekorasi, jasa hiburan, dan makanan.
Banyak warganet yang penasaran dengan istilah “horeg”. Kata horeg merupakan istilah populer salang dari bahasa Jawa. Berdasarkan terjemahan dari Kamus Bahasa Jawa Indonesia (/kbji.kemendikdasmen.go.id) horeg dapat diartikan sebagai “bergetar” atau “bergerak”.
Hal tersebut juga dijelaskan melalui laman unesa.ac.id/post, penamaan sound horeg ini merujuk pada efek dari suara sound system yang begitu keras sehingga membuat benda-benda disekitarnya ikut bergetar atau “horeg”.
Fenomena suara keras ini akan membuat benda-benda disekitar seperti dinding ataupun lantai berefek memunculkan getaran ataupun gema dari musik yang diputar.
Melihat fenomena sound horeg, diperlukan regulasi yang tepat. Pengaturan terkait lokasi misalnya tidak ditampilkan di area padat penduduk, dan jam operasional yang sesuai. Cara ini sangat penting untuk mencegah polusi suara yang berlebihan.
Masyarakat juga perlu berpartisipasi aktif, untuk membangun kesadaran akan kesehatan pendengaran dan pentingnya saling menghargai. Dengan peraturan yang tepat, sound horeg tetap bisa menjadi bagian dari budaya lokal tanpa mengganggu ketertiban dan kenyamanan bersama.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
