Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 April 2025 | 13.44 WIB

Kisah Mbok Yem, Pemilik Warung tertinggi di Indonesia, Teh Manis, Pecel, dan Cerita yang Kini hanya jadi Kenangan Pendaki Gunung Lawu

Warung Mbok Yem di Gunung Lawu menjadi warung tertinggi di Indonesia. Kini pemiliknya tinggal kenangan. (Dok. Radar Lawu) - Image

Warung Mbok Yem di Gunung Lawu menjadi warung tertinggi di Indonesia. Kini pemiliknya tinggal kenangan. (Dok. Radar Lawu)

JawaPos.com - Rabu, 23 April 2025 menjadi duka bagi dunia pendakian tanah air. Pada tanggal ini, Wakiyem atau Mbok Yem, penjaga warung di Puncak Gunung Lawu, Jawa Timur tutup usia.

Mbok Yem bukan lah sosok asing. Namanya begiu melegenda di kalangan pendaki. Terlebih bagi mereka yang berhasil menaklukan Puncak Hargo Dumilah Lawu 3265 mdpl via jalur pendakian Candi Cetho.

Di ketinggian 3.150 mdpl, Mbok Yem menjajakan berbagai hidangan yang mengobati lapar dan dahaga para pendaki. Mulai dari nasi pecel, pisang goreng, mie rebus, nasi goreng, hingga aneka minuman.

Bagi pra pendaki, kehadiran Mbok Yem lebih dari sekedar penjaga warung yang menyuguhkan makanan dan minuman. Ia adalah sosok yang periang, ramah, tangguh, dan kerap menolong pendaki yang tersesat di jalur pendakian.

Di tengah embusan angin dingin Lawu yang menusuk tulang, banyak pendaki memilih melipir ke warung legendaris Mbok Yem. Sekadar menghangatkan diri dengan secangkir teh hangat atau mencicipi pecelnya yang ikonik.

Sosok hangat yang setia hadir di tengah kabut dan dinginnya Gunung Lawu kini tinggal kenangan. Namun, tahukah kamu bahwa Mbok Yem dulunya adalah pedagang sembako di rumah?

dulu, ia berjualan sembako di kediamannya yang berada di Dusun Dagung, Desa Gonggang, kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Mbok Yem yang tinggal di kaki Gunung Lawu, sering naik ke hutan untuk mencari bahan jamu herbal.

Kebiasaan tersebut perlahan membawa Mbok Yem pada keputusan besar dalam hidupnya, yakni membuka warung di jalur pendakian Gunung Lawu. Warung milik nenek berusia 82 tahun itu beroperasi pada 1980-an.

Sejak itu, sebagian besar hidupnya ia habiskan di gunung. Jauh dari rumah, tapi dekat dengan para pendaki. Mbok Yem hanya turun gunung setahun sekali. Benar, saat Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Hingga akhirnya pada awal Maret 2025, Mbok Yem harus turun gunung dan ditandu karena sakit. Setelah hampir dua bulan dirawat, sosok yang begitu dicintai ribuan pendaki, tterutama di Gunung Lawu, telah berpulang untuk selamanya.

Teh Manis, Pecel, dan Cerita yang Dirindukan Pendaki
Ucapan duka cita untuk Mbok Yem membanjiri laman media sosial Indonesia. Banyak pendaki yang mengunggah momen saat singgah di warung milik Mbok Yem, salah satunya oleh pemilik akun X @ultimates***.

"Beristirahatlah dengan tenang Mbok Yem. Cerita Pendaki dan nasi pecel mu akan abadi," tulisnya diakhiri emoticon bunga mawar layu, simbol kesedihan dan kehilangan.

Pendaki lain juga mengenang secuil kenangan bersama Mbok Yem di puncak Lawu. Bagi pemilik akun X @Dheny***, warung dan cita rasa pecel racikan Mbok Yem akan selalu abadi dalam hati dan ingatannya.

"Mungkin makanan terenak setelah ibu saya adalah 'Pecel Mbok Yem'. Mbok Yem sekarang sudah gak ngerasain sakit-sakit lagi, surgo nggih Mbok Yem," tulis pendaki lain dalam unggahannya di akun @danang***

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore