Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 Juli 2024 | 18.02 WIB

4 Ritual Masyarakat Jawa secara Kejawen Menyambut Malam Satu Suro, Mulai dari Semedi Hingga Sarasehan

Acara Puro Mangkunegaran Malam Satu Suro tahun lalu. (Puro Mangkunegaran Surakarta) - Image

Acara Puro Mangkunegaran Malam Satu Suro tahun lalu. (Puro Mangkunegaran Surakarta)

JawaPos.com - Bulan Suro merupakan penanggalan dalam kalender Jawa saat memasuki bulan Muharram pada tahun Hijriah. Kata Suro sendiri diambil dari Bahasa Arab, yaitu 'Asyura yang berarti kesepuluh.

Dikutip dari laman UIN Malang, Zainuddin dalam tulisannya, "Tradisi Suro dalam Masyarakat Jawa" mengatakan, bulan Suro dikenal dengan Muharram yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga Umar bin Khattab diresmikan sebagai penanggalan dalam Islam.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, bulan Suro adalah bulan keramat. Banyak kesedihan serta bencana. Maka, mereka mengadakan suatu tradisi yang disatukan dengan mistik kejawen.

Dikutip dari laman Pemda Kabupaten Magelang, terdapat empat ritual yang dilakukan pada malam satu Suro oleh masyarakat Jawa, yaitu:

1. Semedi

Semedi merupakan jalan untuk mencapai intisari mistis, yaitu hubungan langsung dengan Tuhan. Selain itu, dalam ritual ini juga menyadarkan manusia untuk mengingat jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Saat malam satu Suro datang, masyarakat Jawa akan memilih semedi di tempat yang sakral seperti gunung, tepi laut, pohon besar, atau makam keramat.

2. Sesirih

Sesirih dalam makna Jawa adalah melakukan spiritual keprihatinan. Sesirih dilakukan dengan cara mengurangi makan minum, serta kebutuhan jasmaninya upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat memasuki bulan Suro, masyarakat Jawa menjalankan laku Sesirih atau laku prihatin seperti puasa mutih, puasa ngrowot, puasa patigeni, tirakat, puasa ngebleng, dan kungkum.

3. Sesuci

Sesuci artinya mensucikan diri maupun benda pusaka atau jamasan pusaka, benda pusaka tersebut dianggap sakral serta sebagai penggambaran diri seseorang, sehingga harus dipelihara atau dirawat.

Ritual mistis ini dinamakan dengan jamasan atau mencuci keris sebagai benda pusaka, masyarakat Jawa pada umumnya melaksanakan ini di Pantai Parang Tritis pada malam satu Suro.

Di beberapa daerah Jawa lainnya, dalam Upacara Jamasan Pusaka dihidangkan bubur Suro yang melambangkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkah dan rezeki yang diperoleh.

4. Sarasehan

Sarasehan diartikan sebagai temu rasa, bawa rasa, saling mengungkal, atau mengasah kemampuan satu sama lain. Pada malam satu Suro, masyarakat Jawa mengadakan ritual ini dengan duduk bersama balai RT.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore