Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 23 Oktober 2023 | 17.17 WIB

Dari Pondok Pesantren Asal Malang, Produk Minuman Kopi Ini Sukses Merambah Pasar Mancanegara

Kapiten kopi produksi Pondok Pesantren An Nur 2 Al Murtadlo, Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang sudah merambah pasar ekspor.

JawaPos.com- Kapiten kopi? Bagi penggemar minuman rasa kopi, tentu sudah tidak asing dengan merek tersebut. Dikemas dalam botol hitam berukuran 330 ml. Terdapat label cream. Logonya khas. Serupa gambar bajak laut bermata satu dengan jenggot panjang. Selain botol, adapula kemasan kaleng. Harganya terjangkau, Rp 15 ribu-Rp 25 ribu.

Siapa sangka minuman menyegarkan itu made ini sebuah pondok pesantren (Ponpes). Yakni, Ponpes An Nur 2 Al Murtadlo dan CV Kapiten Nusantara, Kabupaten Malang. Yang membanggakan, kini produk itu sudah merambah pasar luar negeri. Namun, untuk bisa go internasional ternyata tidak semudah membalik tangan. Butuh kegigihan.

Tak hanya melatih 25 santri untuk berwirausaha mulai dari nol. Produk itu juga sempat menuai penolakan. Sebab, dikira mengandung alkhohol. Selain itu, logonya dianggap tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman. "Waktu mengenalkan produk ini lucu. Kami ditegur seorang kiai di sana, kok coffee beer? Enek bire tah iki?," cerita H. Maruf Mubarok, salah seorang perwakilan Ponpes An Nur 2 Al Murtadlo kepada Jawa Pos Radar Malang.

Teguran tersebut disampaikan kiai dari sebuah pesantren di Malang dalam sebuah forum. Padahal, pasti tak ada kandungan alkohol, melainkan soda saja. Bahkan, sudah memiliki izin halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Saat nengurus izin halal pun juga sempat ditanyakan. "Kenapa kok tidak diberi nama Cahaya Kopi, misalnya? Logonya kok kapiten dan ada jenggotnya?" ujar lelaki yang akrab disapa Gus Mamak itu menirukan protes kala itu.

Namun, Gus Mamak dan tim tidak ambil pusing dengan tetap berupaya meyakinkan. Akhirnya berhasil. Menurut dia, santri sekarang harus lebih open minded. Tak hanya berkutat dengan ibadah dan mengaji, melainkan juga perlu terampil dalam bidang-bidang lainnya. Salah satunya berwirausaha. Dengan demikian, pesantren memiliki kemandirian dan tetap  hidup. Santri juga mendapat bekal sebagai entrepreneur.

Usaha Kapiten Kopi dimulai sejak 2017. Awalnya, usaha tersebut milik Aji Pramono, alumnus Ponpes An Nur 2 Al Murtadlo. Namun, belakangan berkolaborasi dengan pesantren. Lalu, melakukan produksi penuh pada 2020. Usaha itu merupakan lini bisnis terbaru. Sebelumnya, ada beberapa usaha yang dikembangkan pesantren. Mulai bengkel, SPBU, konveksi, pengolahan tembakau, butik, toko retail, hingga pengolahan tebu.

"Bisnis kopi kami pilih karena melihat tren dan peluang yang cukup bagus. Kami membuat olahan kopi dengan perisa," terang lelaki berusia 25 tahun itu.

Kebetulan, lanjut dia, di pesantren juga sudah memiliki kedai kopi. Beryukur, juga mendapar support program One Pesantren One Product (OPOP) yang dicanangkan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Dalam mengembangkan bisnis, pesantren bekerja sama dengan alumni. Biji kopi langsung dipanen dari kebun seluas 2 hektare. Kebun itupun dikelola alumni di Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

Bahkan, kini sedang menambah perkebunan kopi. Letaknya di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dengan luas sekitar 7.000 meter persegi. Sudah proses penanaman. Kapiten Coffee Beer dikerjakan 25 santri. Mereka alumni SMA, yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tidak ada kriteria khusus untuk santri yang ingin bekerja. Yang terpenting bersih, jujur, dan pintar. Hubungan antara guru dengan santri yang sudah terjalin selama beberapa tahun di pesantren, membuat proses pengerjaan lebih mudah.

Para santri dilatih dari nol. Mulai keterampilan bidang manajemen, Standar Operasional Prosedur (SOP), mencuci botol, hingga filling atau mengisi kopi ke botol. Dengan SDM santri serta ditunjang alat-alat modern, Kapiten Nusantara mampu memproduksi 208.000 pieces dalam satu bulan. Baik kemasan botol maupun kaleng.

"Untuk satu jam, kami bisa memproduksi 2.000 pieces. Setiap hari, estimasinya mencapai empat jam produksi selama 26 hari," bebernya.

Pemasarannya pun sudah hampir ke seluruh Indonesia. Selain  Malang dan sekitarnya, juga ke Surabaya, Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Kalimantan Selatan. Ekspansi selanjutnya ke Bogor. Kini, produk Kapiten Kopi pun sudah bisa dijumpai di sejumlah retail besar di Indonesia hingga Malaysia. Selain itu, juga berencana merambah ekspor ke India dan New Zealand. Dua negara ini dipilih karena berdasarkan riset termasuk negara dengan konsumsi soda yang tinggi.

Tidak hanya usaha minuman kopi. Dua produk baru rencananya bakal diluncurkan. Yakni, makanan ringan berupa choconut chips dan minuman berbahan jeruk siam asli. Untuk minuman jeruk, pesantren juga mengambil dari kebun milik alumni di Kecamatan Tumpang. ‘’Kami melakukan riset saat harga jeruk sedang tidak karu-karuan, kemudian dibeli dengan harga normal, sehingga ada keberlanjutan," ungkapnya.

Dalam membuka keran ekspor, pesantren banyak berdiskusi dan berjejaring dengan asosiasi. Di antaranya, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kabupaten Malang, Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) Jatim, hingga Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim. ‘’Kami juga banyak belajar dari para senior, termasuk Ketua Kadin Jatim Tommy Kaihatu,’’ kata Gus Mamak.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore