Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Mei 2023 | 07.01 WIB

Diskusi Hikayat Gambar, Tarik Garis Ciptakan Bentuk

Pameran gambar dan lukisan Hikayat Gambar di Creative Center Ahmad Djuhara Gedung Negara Kota Cirebon. - Image

Pameran gambar dan lukisan Hikayat Gambar di Creative Center Ahmad Djuhara Gedung Negara Kota Cirebon.

JawaPos.com–Gambar mewakili ekspresi sebagai untuk menyampaikan pesan. Itu dilakukan pada masa purba saat awal komunikasi masih sangat terbatas.

Manusia purba memakai gambar seperti doa melalui proses mengalami. Juga sebagai monumen eksistensi.

”Itu seperti altar. Insting atau intuisi itu bahkan sudah ada sejak kecil pada saat anak usia balita mencoret-coret dinding,” kata kurator lukisan Daniel Adenis saat diskusi Seni Rupa Pameran Seni Rupa Hikayat Gambar memperingati bulan menggambar nasional di Creative Center Gedung Negara Kota Cirebon, Rabu (10/5).

Gambar menurut dia, ada karena ada garis dan tarikan garis dimulai dari titik hingga menjadi bentuk.

Dia menjelaskan, secara umum seni gambar berkembang di Eropa. Dipelajari hingga dikotak-kotakan menjadi aliran. Seperti realis, abstrak, dan lain-lain.

”Sedangkan di negara-negara Arab dan Islam kurang berkembang karena ada hambatan,” papar Daniel.

Diskusi Pameran Seni Rupa Hikayat Gambar memperingati Bulan Menggambar Nasional di Gedung Negara Kota Cirebon.

Menurut dia, di Indonesia perkembangan gambar tak bisa lepas dari proses kolonial atau penjajahan. Saat itu bangsa Eropa menggambar flora dan fauna atau benda-benda khas lokal seperti keris dan lainnya.

”Mereka juga membuat gambar peta,” ujar Daniel.

Seni dan seniman gambar sempat lesu saat ditemukan teknologi fotografi. Namun, lanjut Daniel, para seniman itu akhirnya bangkit dan kembali berkarya.

Sementara itu, M. Agung Abul, praktisi dan pendiri Biennal, Kabupaten Kuningan, mengatakan, perkembangan gambar di Indonesia tak bisa lepas dari jalur rempah. Membawa masuk pengaruh dari luar.

”Saat ini, banyak komunitas-komunitas seni. Ini membawa warna baru. Seni makin produktif,” papar Agung.

Diskusi dipandu moderator Agus Suwanda, praktisi dan seniman glasses itu dilanjutkan dengan sesi interaktif atau tanya jawab.

Dalam kesempatan itu, Hasratman, praktisi pendidikan khusus bertanya tahap-tahap untuk mempelajari seni khususnya seni rupa atau menggambar. Dia juga bertanya soal menggambar atau seni untuk anak berkebutuhan khusus.

”Kami memiliki anak berkebutuhan khusus. Ada yang autis. Salah satu dari mereka sepertinya bisa fokus atau merasa tenang dan nyaman saat menggambar. Apakah perlu ada treatment khusus?” ujar Hasratman.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore