
Stadion Kanjuruhan Malang. Rafika Yahya/JawaPos.com
JawaPos.com–Keluarga DAY, 41, korban tragedi Kanjuruhan Malang belum juga mendapatkan hasil otopsi. Padahal dua mendiang putrinya, NDR, 16, dan NDB, 13, sudah menjalani otopsi pada 5 November.
Padahal berdasar informasi, pemeriksaan otopsi dan patologi forensik NDR dan NDB sudah rampung. Namun hasilnya belum juga diterima pihak keluarga.
Kabar itu disampaikan pengacara keluarga korban, Imam Hidayat. Dia mengaku mengetahui hal itu usai mendapat kabar dari Ketua Perhimpunan Dokter Forensik (PDFI) Jawa Timur Nabil Bahasuan.
”Kata dokter Nabil itu (hasil otopsi) sudah selesai. Hari ini (29/11) selesai, tinggal di-print. Nanti dipersilakan penyidik yang mengambil. Karena otopsi, atas permintaan penyidik, artinya dikembalikan ke penyidik,” tutur Imam, Selasa (29/11).
Hasil otopsi itu seharusnya diumumkan polisi sebagai pihak yang berwenang dalam pengusutan kasus. Berdasar aturan KUHAP, polisi berhak mengumumkan hasil otopsi ke publik atau menutupinya dari masyarakat.
Meski demikian, Imam menyebut, keluarga DAY sangat ingin mengetahui apa penyebab berpulangnya NDR dan NDB. Namun hingga kini polisi tak juga memberikan kabar terkait hasil otopsi.
”Keluarga sih sangat ingin tahu hasilnya. Nanti setelah dilimpahkan ke penyidik, mungkin kami mengajukan permohonan untuk mendapatkan hasil otopsi itu,” ucap Imam.
Sebelumnya, DAY mengaku lega setelah putrinya diotopsi. Dua putrinya tak memiliki beban setelah diotopsi dengan metode ekshumasi atau pembongkaran makam.
”Lega bisa memakamkan mereka kembali, sekarang sudah tidak punya beban,” ungkap DAY, Sabtu (5/11), di Desa Krebet Senggrong, Malang.
Dia berharap hasil otopsi bisa mendatangkan keadilan bagi anak-anaknya. Dia meyakini mereka meninggal karena gas air mata kedaluwarsa. ”Bukan kelalaian. Unsurnya sudah pembantaian. Mereka (polisi) sengaja bawa senjata,” tegas dia.
Jika memang terbukti gas air mata menjadi penyebab kematian, dia ingin semua polisi yang menembakkan gas air mata dihukum seberat mungkin. ”Anak saya tidak salah. Mereka duduk di tribun dan dibantai,” tutur dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
