
MAKIN PEDAS: Sario memilah cabai dagangannya di Pasar Keputran, Surabaya, Minggu (26/12). Menjelang akhir 2021, harga sejumlah barang kebutuhan pokok naik. (Dimas Maulana/Jawa Pos)
JawaPos.com–Harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional Palembang, Sumatera Selatan, melambung hingga Rp 120.000 per kilogram.
Ida, pedagang di Pasar Perumnas Palembang mengatakan, kenaikan harga cabai itu sudah dirasakan dalam dua pekan terakhir. ”Kemarin masih Rp 100.000 per kilogram, tapi hari ini (8/7) sudah Rp 120.000 per kilogram,” kata Ida seperti dilansir dari Antara, Jumat (8/7).
Lantaran tingginya harga cabai itu, sebagian pembeli mengurangi kebutuhannya. Dewi, pedagang lain di Pasar Lemabang Palembang mengatakan, hanya menjual sekitar 20 kilogram cabai merah atau menurun hingga 50 persen dibandingkan sebelumnya.
”Warga sepertinya berhemat, mengurangi pembelian cabai,” terang Dewi.
Sementara itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan selaku ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk merespons kenaikan harga cabai. Kepala Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan R. Erwin Soeriadimadja mengatakan, kenaikan harga cabai yang dipengaruhi cuaca perlu disikapi secara cepat. Salah satunya dengan menambah pasokan dan memperlancar distribusi.
”Kondisi ini lantaran tingginya kebutuhan Sumsel terhadap bahan pokok tersebut yang tak didukung dengan produksi dari petani setempat,” tutur Erwin.
Dia menambahkan, cuaca tak menentu pada masa pancaroba membuat sentra perkebunan cabai di Sumsel mengalami gagal panen sehingga mengerek harga. ”Bukan hanya cabai, kita juga mengantisipasi bahan pangan lain seperti bawang yang selama ini disuplai dari Brebes menghadapi Idul Adha,” terang Erwin.
Sejauh ini, menurut dia, BI sebagai ketua TPID sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sumsel untuk mengantisipasi kondisi tersebut demi menjaga kestabilan harga. Secara keseluruhan terdata bahwa inflasi Sumsel masih terkendali di kisaran 4,0 persen, sementara target nasional 3,5 persen plus minus satu persen.
Dia menjelaskan, saat ini sulit ditemukan daerah di Tanah Air yang benar-benar mandiri. Oleh karena itu, program Sumsel Mandiri Pangan yang dicanangkan Pemprov Sumsel mendapat dukungan Bank Indonesia bahkan program itu layak diadopsi menjadi Sumatera Mandiri Pangan.
”Kami sedang memasifkan digitalisasi farming, yang terbukti efektif mencegah kegagalan panen. Pilot project sudah dilakukan di Ogan Ilir,” papar Erwin.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
