Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Juni 2022 | 04.10 WIB

Misteri Jembatan Sidowayah Ngawi Mendadak Bercabang Dua atau Tiga

HARUS HATI-HATI: Beberapa orang naik di bagian atas truk yang melintas di Jembatan Sidowayah. Bentuk Jembatan Sidowayah yang menikung membuat pelintas wajib waspada. Apalagi jika melihat jalan bercabang. Warga sekitar menyarankan agar pengendara turun dan - Image

HARUS HATI-HATI: Beberapa orang naik di bagian atas truk yang melintas di Jembatan Sidowayah. Bentuk Jembatan Sidowayah yang menikung membuat pelintas wajib waspada. Apalagi jika melihat jalan bercabang. Warga sekitar menyarankan agar pengendara turun dan

Sejak lama Jembatan Sidowayah dikenal memiliki keanehan. Yang paling sering, pengendara melihat jalan bercabang dua atau tiga. Padahal, sesungguhnya hanya ada satu jalur. Ada pula sopir dan kernet bus yang merasa menaikkan atau menurunkan penumpang di jembatan. Di mata warga sekitar, tak ada siapa-siapa saat pintu bus terbuka.

---

JEMBATAN Sidowayah berada di jalan Ngawi–Solo. Tepatnya di Dusun Sidowayah, Desa Jenggrik. Jembatan itu tidak panjang. Hanya sekitar 20 meter, membentang dari timur ke barat. Bentuknya menikung. Warga sekitar menyebut kawasan itu sebagai kerajaan makhluk halus. Terutama di sebelah jembatan. Di sana terdapat pohon besar yang dikeramatkan warga.

Menurut Denok, penjual buah di dekat jembatan tersebut, sopir bus sering kali berhenti sebelum jembatan. Mereka lantas bertanya kepada warga sekitar tentang jalan menuju Surabaya–Sragen atau sebaliknya. Sebab, mereka melihat ada tiga jalan yang terbentang.

’’Kalau yang tahu, pasti tanya ke warga,’’ ucapnya. Sebab, kalau salah memilih jalur, bisa-bisa mereka mengalami kecelakaan. Seperti beberapa kejadian sebelumnya.

Jembatan Sidowayah memang hanya satu lajur. Tapi, beberapa pengendara kadang melihatnya bercabang tiga. Ke arah selatan, lurus, dan utara. Berdasar cerita warga, jalan yang asli terlihat bergelombang dan sedikit rusak. Sementara itu, dua lajur lainnya terlihat mulus dan lebar.

Denok juga sering melihat bus berhenti di sana. Bukan untuk bertanya, tapi membuka pintu bus. Mirip seperti menurunkan atau menaikkan penumpang. Hanya, yang turun atau naik tidak ada wujudnya. ’’Sudah lama ini terjadi, bahkan sampai sekarang. Terakhir seminggu lalu,’’ tutur perempuan yang membuka lapak sekitar 50 meter dari jembatan itu.

Kalau kata sopir, lanjutnya, memang ada orang naik atau turun. Tapi, warga sekitar tidak melihat ada orang. Hal serupa diungkapkan Yudi, warga setempat. Peristiwa itu tidak hanya terjadi saat malam. Siang juga sering. Sehingga banyak warga yang melihat.

Sosok perempuan berbaju putih juga kerap menampakkan diri di jembatan. Biasanya melintas begitu saja. Itulah yang membuat sopir terganggu. Akibatnya, kejadian laka tak terhindarkan. ’’Makanya, dari jauh sebelum lewat jembatan, sopir pasti membunyikan klakson,’’ kata Yudi.

Afandi, warga lainnya, teringat kejadian 36 tahun silam. Saat itu, sebuah bus terperosok dari Jembatan Sidowayah. Seluruh penumpang meninggal. Hanya seorang bayi yang masih hidup. ’’Evakuasinya sampai tiga hari,’’ kenangnya.

Rumah Afandi hanya 50 meter dari jembatan. Dia menyebut jembatan itu kerap ambrol. Penyebabnya karena sering ditabrak. Terutama yang sisi selatan. Banyak kendaraan dari arah Surabaya–Sragen yang menabrak. Sopir melihat jalan itu bercabang. Bahkan, jalan aslinya terlihat lebih sempit.

Kerena itu, warga sudah terbiasa melihat pengendara berhenti dan bertanya soal jalur yang benar. Terutama kendaraan besar seperti bus. Bahkan, warga menyarankan, siapa saja yang melintas dan melihat jalan bercabang lebih baik turun. Sebab, hal itu sangat membahayakan. Bisa fatal seperti kejadian laka sebelumnya. ’’Ini lumrah. Masyarakat sini sudah paham,’’ ujarnya.

Jembatan itu memang sangat magis. Bukan hanya penampakan perempuan yang kerap terlihat. Sosok kakek juga sering lewat. Kemunculannya pun tiba-tiba. Akibatnya, pengendara kaget dan oleng.

Laka di Jembatan Sidowayah saat ini sudah menurun. Tidak seperti sebelumnya. Hampir setiap tahun pasti ada kejadian. Menurut Afandi, hal itu karena ada tokoh masyarakat yang rutin melakukan ruwatan. Tujuannya agar tidak ada musibah laka di Jembatan Sidowayah. ’’Setiap tahun diruwat,’’ ungkapnya.

Namun, ruwatannya berupa apa, dia tidak tahu. Sebab, semua dilakukan secara pribadi. Yang jelas, ada semacam ritual untuk tolak bala. Bahkan, pohon yang dikeramatkan di sebelah Jembatan Sidowayah selalu ditaburi bunga. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore