
Batu Kenong yang selalu menjadi perhatian pengunjung yang berwisata ke Situs Duplang di Jember, Jawa Timur
JawaPos.com - Menjelajahi Jawa Timur belum lengkap rasanya jika belum singgah ke Jember. Kabupaten yang pada zaman penjajahan dikenal dengan potensi tembakaunya ini punya bukti sejarah lain, yakni peninggalan purbakalanya yang masih terjaga dengan baik. Batu-batuan besar zaman megalitikum itu masih tersimpan rapi di alam dan dijaga masyarakat.
Batu megalitikum tersebut tersebar di beberapa penjuru desa di Jember. Lokasi terdekat melihat batu megalitikum di alam ada di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa. Waktu perjalan dari kota menuju Desa Kamal sekitar 15 menit dengan jarak sekitar 16 kilometer. Desa Kamal terletak ke tidak jauh dari Jalan Provinsi Jember Bondowoso.
Dari jalan ke arah Bondowoso tersebut, terdapat jalan desa ke utara atau belok kiri. Disitulah arah menuju Situs Duplang di Desa Kamal. Menuju lokasi itu, akan menemukan bagaimana kondisi masyarakat perdesaan. Bila sudah sampai di Desa Kamal, menemukan lokasi Situs Duplang juga tidak begitu jauh. Sekitar lima menit kemudian akan sampai di Situs Duplang.
Mengunjungi Situs Duplang tersebut seperti berada di museum terbuka peninggalan pra sejarah. Sebab, batu-batu tersebut terdapat nama dan penjelasannya. Sehingga, menjadi tempat wisata edukasi menarik bagi pelajar, hingga anak didik. Terlebih lagi cukup menjadi lokasi pilihan untuk berlibur. Pohon yang menjulang tinggi, membuat lokasi tersebut rindang dan sejuk.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, dari berbagai batu-batuan tersebut ada salah satu batu yang cukup unik bentuknya. Yaitu mirip alat musik gamelan dan nama batu itu juga diberi nama batu kenong. Dari penjelasannya, batu kenong merupakan sebuah benda megalitik yang berbentuk silinder dan memiliki tonjolan di atasnya.
Batu Kenong yang banyak mencuri perhatian orang-orang yang berwisata ke Situs Duplang ini mempunyai berbagai fungsi, misalnya digunakan dalam bangunan penguburan maupun juga digunakan dalam upacara pemujaan.
Selain batu kenong, ada juga batu dolmen. Yaitu peninggalan zaman megalitikum berbentuk seperti meja datar yang disangga oleh empat sampai enam batu batu di bawahnya. Dolmen berfungsi sebagai tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang.
Ada juga batu menhir. Bentuk batunya yang menjulang ke atas tersebut, merupakan tugu terbuat dari batu yang digunakan sebagai pemujaan roh nenek moyang pada zaman megalitikum. Tidak lama pria tua itu datang. Dia bernama Abdu Rahim yang diketahui adalah juru pelihara. Dia menjelaskan Situs Duplang cukup kerap dikunjungi oleh pelajar sebagai wisata edukasi. Tapi juga tidak jarang mahasiswa juga berkunjung.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
