Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 Mei 2022 | 19.40 WIB

Pupuk Subsidi Macet, Pupuk Nonsubsidi Mahal, Petani Buat Pupuk Alami

Ilustrasi petani. Dok. JawaPos - Image

Ilustrasi petani. Dok. JawaPos

JawaPos.com–Stok pupuk bersubsidi masih belum terdistribusi dengan cepat dan sampai di tangan petani. Harga pupuk nonsubsidi masih tinggi. Otomatis petani harus mencari jalan keluar.

Salah satu cara yang efektif ialah dengan membuat pupuk alami atau organik. Seperti yang dilakukan Setyo Budiawan, petani di Desa Sragi, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Dia menggunakan pupuk alami buatan poktan setempat, yakni pupuk biosaka.

”Bisa digunakan untuk semua jenis tanaman,” ujar Setyo pada Sabtu (21/5).

Setyo mengatakan, pupuk biosaka tidak hanya untuk tanaman padi, juga bisa digunakan untuk tanaman lain seperti, kopi, alpukat, durian, jagung, dan kedelai.

”Saya pakai pupuk ini sejak 2021. Hasilnya bagus. Cara gunakannya mudah, tinggal disemprot dari mulai nol hari sampai enam kali semprot. Ini adalah solusi ketika pupuk kimia makin mahal dan langka,” papar Setyo.

Hal serupa diakui Halid, petani asal Desa Kepuh Teluk, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Dia mengaku membuat pupuk organik dari kotoran sapi.

”Pupuk alami ini ternyata bagus juga buat tanaman dan hasil tanamannya juga bagus,” tutur Halid.

Dia belajar secara otodidak membuat pupuk alami. Upaya itu ditempuh karena keterbatasan pemerintah mencukupi kuota pupuk.

”Mau tidak mau harus bikin pupuk alami, karena mau beli pupuk nonorganik mahal,” ungkap Halid.

Dia mengklaim pupuk buatannya mampu membuat kesuburan tanah dalam waktu lama. Sehingga, tanaman bisa tumbuh subur dan berbuah lebat. Pupuk organik juga disebut ramah lingkungan, mampu meningkatkan aktivitas mikroorganisme di dalam tanah, dan mampu meningkatkan kemampuan tanah menyerap air.

”Memang kalau dibandingkan dengan pupuk botolan masih kalah karena yang botolan sudah ada antihama. Tapi organik gak merusak lingkungan,” kata Halid.

Setyo dan Halid merupakan dua contoh petani asal Jatim yang memahami sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. Selama ini, petani terlalu bergantung pupuk kimia.

Meski demikian, mereka tetap berharap pemerintah lakukan penyempurnaan dan verifikasi data petani pada Sistem e-RDKK. Dengan cara integrasi NIK yang dikelola Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil, Kemendagri.

Petani juga berharap pemerintah meningkatan kapasitas penyuluh pertanian sebagai man on the spot untuk mendukung e-RDKK dan pendampingan Kartu Tani. Pembekalan khusus itu, perlu menjadi bagian integral dari kebijakan penajaman subsidi pupuk.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore