
BANYAK BEKAS BANGUNAN TELANTAR: Dulu hutan Tinjomoyo adalah kebun binatang. Karena objek wisata itu sudah pindah, sebagian fasilitas di sana mangkrak. Jika ada yang berbuat mesum, penunggu hutan akan marah. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
Hutan Tinjomoyo di Kecamatan Banyumanik, Semarang, menyimpan banyak misteri. Salah satunya, penemuan mayat perempuan tujuh tahun lalu yang hingga kini pelakunya belum terungkap.
---
MALAM mulai tiba. Pengendara motor yang harus melintasi hutan mulai waswas. Terlebih para tukang ojek yang berasal dari luar Dusun Tinjomoyo. Mereka anti mengambil penumpang di sana jika tak ingin mengalami peristiwa yang tak mengenakkan, Sebab, sering ada perempuan yang menumpang, tapi mendadak hilang di tengah jalan.
Dulu, hutan tersebut adalah kebun binatang. Sekitar 2006, Kebun Binatang Tinjomoyo dipindahkan. Alasannya, air sungai sering meluap. Terutama saat musim hujan. Hal tersebut dirasa membahayakan para binatang. Sejak saat itu, bekas bangunan bonbin tersebut terbengkalai. Karena lahannya cukup luas, pemerintah setempat memanfaatkannya sebagai lokasi kamping.
Di dalam hutan Tinjomoyo juga terdapat sebuah perkampungan. Jalan masuk hutan adalah akses utama warga. Jalannya cukup lebar. Setidaknya mobil bisa bersimpangan. Penerangan jalan saat malam pun cukup lumayan. Namun, itu tak menghalangi munculnya cerita-cerita mistis yang membikin bulu kuduk merinding.
Jawa Pos mendatangi beberapa warga Dusun Tinjomoyo yang tinggal sekitar 2 kilometer dari pintu masuk hutan untuk menanyakan soal perempuan yang sering mengganggu pengendara. ’’Yang diganggu biasanya orang dari luar desa,’’ kata Sakdun, salah seorang warga. Dia menjelaskan, saat malam sering ada perempuan cantik yang duduk dengan tatapan kosong. Biasanya, sosok perempuan itu berada di jembatan hutan Tinjomoyo maupun di luar sebelum pintu penjagaan.
Nah, sosok tersebut sering meminta tumpangan kepada pengendara yang melintas. Seramnya, saat dibonceng, perempuan tersebut tiba-tiba hilang di tengah perjalanan. Sakdun menuturkan, kalau perempuan itu ditemui di dalam hutan, biasanya dia minta diantar sampai pintu penjagaan. Sementara itu, kalau dari luar, seringnya sampai perkampungan warga. ’’Kalau dari cerita, sosoknya memang cantik,’’ ucapnya.
Sakdun bercerita, pada 2014, sosok perempuan cantik ditemukan terbunuh di dalam hutan. Jenazah tanpa busana itu diketahui warga sekitar saat mencari pakan ternak. Hingga sekarang, misteri siapa pembunuhnya belum terungkap.
Hampir semua kawasan hutan Tinjomoyo memiliki energi yang kuat. Menurut Sakdun, hutan Tinjomoyo dulunya sempat dilewati Sunan Kalijaga untuk mencari kayu jati sehingga energi yang ada cukup kuat.
Salah satu spot yang dicari banyak pengunjung adalah Watu Kunti. Sebuah batu yang kerap dijadikan jujukan orang untuk meminta apa pun. Mulai jodoh, harta, hingga ilmu kebatinan. ’’Saya juga nggak tau kok sampai dibuat begitu,’’ kata Sakdun. Warga sekitar menganggapnya sebagai hal yang biasa. Lokasi batu itu sekitar 2 kilometer dari tempat pemakaman umum (TPU) warga. Aksesnya hanya bisa ditempuh dengan motor.
Namun, tidak semua orang luar bisa ke sana. Sebab, jalan itu ditutup dengan besi yang digembok. Alasannya, menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Sebab, jalannya penuh dengan semak. Takutnya, justru yang datang ke sana tidak bisa kembali pulang. Rofik, salah seorang warga, menyatakan, Watu Kunti konon menjadi tempat berkumpulnya kuntilanak. Termasuk juga makhluk astral lainnya. Beberapa orang juga sengaja datang untuk bersemedi di sana.
Orang luar juga kerap melihat penampakan. Misalnya, pocong atau perempuan yang naik di atas pohon. ’’Kalau warga kampung sini, malah hampir nggak pernah,’’ ucapnya. Konon, makhluk penghuni hutan Tinjomoyo tak segan mengganggu siapa saja yang datang dengan niat tak baik. Tidak sedikit juga mereka yang kesurupan. Konon katanya, arwah korban pembunuhan terkadang merasuki tubuh siapa saja. Maklum, dia ingin menyampaikan beberapa pesan yang hingga kini belum terungkap.
Beberapa kesurupan juga mengisyaratkan adanya sosok perempuan korban mutilasi yang dibuang di dalam hutan. Namun, hingga kini keberadaannya belum ditemukan. Begitu pun soal tersangkanya.
Menurut Rofik, makhluk penghuni hutan Tinjomoyo akan marah jika ada orang yang memadu kasih di sana. Apalagi sampai melakukan hal yang dilarang agama. Jika seperti itu, bisa jadi akan diganggu terus, bahkan sampai orang tersebut sudah pulang ke rumahnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
