Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Juli 2021 | 22.39 WIB

Kalau Saya Positif dan Isoman 14 Hari, Anak Istri Makan dengan Apa?

Pantai Padang (Padek) - Image

Pantai Padang (Padek)

JawaPos.com - Kesadaran masyarakat Kota Padang terhadap bahaya penularan covid-19 semakin meningkat setelah diberlakukannya PPKM Darurat pada Senin (12/7).

Namun di balik itu, tidak sedikit juga yang khawatir. Mereka tidak memiliki cadangan keuangan untuk bertahan hidup, jika PPKM darurat berlangsung lebih lama lagi. Kekhawatiran itu dialami bagi warga yang berpenghasilan secara harian.

"Sampai kapan situasi seperti ini berlangsung?" gumam Lilik Suryani, 41, warga Kecamatan Padang Utara, Kota Padang kepada JawaPos.com, Jumat (16/7).

Lilik, 40, mengaku tidak tahu apa yang terjadi jika PPKM darurat berlangsung lebih lama. Sebab, suaminya hanyalah buruh harian. Penghasilan tidak tetap. Lilik pun berupaya menopang kebutuhan keluarga sejak beberapa bulan terakhir dengan berjualan. Tetapi, hasil dari jualan itu tidak terlalu menggembirakan. "Pembeli sepi. Dagangan digelar tapi yang beli hanya ada satu dan dua," ujar warga Kecamatan Padang Utara itu.

Menurut Lilik, PPKM Darurat tidak menjadi persoalan bagi warga yang berprofesi sebagai PNS, TNI, Polri, atau pegawai swasta yang mendapat gaji setiap bulan. Jika kelompok itu harus menjalani work from home (WFH), mereka masih menerima gaji. "Kami tidak demikian. Harus berjualan, harus bekerja agar mendapatkan sesuap nasi," sebutnya dengan tetap menjalani prokes.

Lain lagi dengan Beni Chandra, warga Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Beberapa hari ini dia khawatir, karena tidak bisa berjualan. Sebab, istrinya demam sudah hampir setahun. Demam itu menunjukkan gejala kearah covid-19. Tapi dia tidak berani memperiksakan ke puskesmas, meskipun swab PCR gratis. Dia memilih mengisolasikan istrinya. Untuk pengobatan, dia memberikan obat demam dan ramuan tradisional. "Arahnya ke situ (covid-19)," ujar Beni.

Ayah tiga orang anak itu mengaku sudah berupaya menerapkan protokol kesehatan (prokes). Baik di rumah maupun saat berjualan. Sehari-hari Beni berjualan kembang secara keliling dengan mobil. Penghasilannya dari jualan kembang relatif menurun semenjak pandemi melanda. Pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. "Dapat hari ini, sore sudah habis. Untuk besok saya harus jualan lagi agar anak-anak bisa makan," katanya.

Pria 41 tahun itu sempat ingin membawa istrinya berobat ke puskemas, tapi urung. Dia khawatir di puskesmas harus menjalani tes swab PCR. Kalau hasil dari swab PCR itu positif, maka dirinya dan ketiga anaknya ikut di-swab. "Kalau saya positif, otomatis saya harus isoman selama 14 hari. Selama 14 hari itu, saya dan keluarga makan pakai apa?" ujar mempertanyakan. Sebagai tulang punggung keluarga, dia khawatir anak dan istri tidak bisa makan selama 14 hari. Cadangan keuangan tidak ada.

"Cadangan keuangan saya habis untuk biaya masuk sekolah anak nomor dua. Dia masuk SMA tahun ini. Yang sulung juga naik kelas tiga. Semua habis untuk itu," akunya.

Lilik dan Beni adalah potret kecil dari 973.152 penduduk Kota Padang yang terdampak Covid-19.

Jalanan di Kota Padang memang terlihat sepi semenjak PPKM darurat. Pantai Padang sebagai salah satu objek wisata paling favorit di ibu kota Sumatera Barat itu ditutup. Pusat perbelanjaan juga tutup. Apalagi tempat hiburan. Pedagang kaki lima memang boleh berjualan, tapi pembeli tidak ada yang datang.

Sementara laju pertambahan kasus positif covid-19 di Kota Padang terus bertambah. Senin (12/7) terdapat 160 kasus positif baru. Angka itu naik menjadi 176 pada Selasa (13/7) dan melonjak tajam pada Rabu (14/7) dengan jumlah kasus positif bertambah mencapai 592. Angka itu menurun pada Kamis (15/7) yakni 343 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Feri Mulyani mengatakan, pihaknya terus meningkatkan tracing untuk warga. Untuk satu kasus dilakukan tracing kepada 10 sampai 15 orang yang kontak langsung.

Dalam penelusuran kasus positif, Pemkot Padang menggunakan swab PCR. Tes itu dilakukan secara gratis di 23 puskesmas yang tersebar di kota tersebut. Tes PCR bagi warga yang mengalami demam dan berobat ke puskesmas. "Hasil PCR di laboratorium bisa diketahui 1 kali 24 jam. Di sini kami tidak memakai swab antigen. Hanya PCR. Semua gratis di puskesmas," tegas Feri Mulyani kepada JawaPos.com, Jumat (16/7).

Feri Mulyani mengklaim tingginya penambahan kasus positif di Kota Padang karena pihaknya meningkatkan tracing setiap harinya. Sehingga angka penambahan positif melonjak.

Semenjak diberlakukannya PPKM darurat, kata Feri, kesadaran warga terhadap vaksinasi semakin tinggi. Sebab, vaksin adalah salah satu syarat untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Begitu juga penerapan prokes.

Memang sebelum ada PPKM, kesadaran prokes warga Kota Padang cenderung rendah. Banyak warga tidak menggunakan masker. Tidak mengatur jarak dan abai dengan kerumunan. Buktinya sempat viral sebuah video yang menampilkan warga di sebuah restoran yang begitu ramai. Pengunjung restoran itu tidak memakai masker. Duduk mereka tidak ada jarak. Sebelum itu setiap acara resepsi pernikahan tidak ada tamu yang menggunakan masker. Tamu-tamu abai dengan kerumunan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore