Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Februari 2021 | 13.46 WIB

Epidemiolog Sebut Sumsel Belum Kompak Tangani Covid-19

Calon penumpang saat mengikuti  rapid tes antigen di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (22/12/2020). Seribuan calon penumpang mengikuti rapid tes tersebut untuk melengkapi syarat perjalanan untuk menggunakan layanan kereta api. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos - Image

Calon penumpang saat mengikuti rapid tes antigen di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (22/12/2020). Seribuan calon penumpang mengikuti rapid tes tersebut untuk melengkapi syarat perjalanan untuk menggunakan layanan kereta api. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos

JawaPos.com–Pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera Selatan dinilai belum kompak menangani pengendalian kasus Covid-19. Hal itu dilihat dari tingkat pelacakan kontak erat yang masih rendah.

”Ada kabupaten/kota yang kasus positifnya masih proses tapi pelacakan kontak eratnya sangat seadanya misal hanya 10 orang. Padahal satu kasus paling tidak ada 30 orang kontak erat,” kata Epidemiolog Universitas Sriwijaya Iche Andriani Liberty seperti dilansir dari Antara di Palembang, Senin (15/2).

Tingkat pelacakan kontak erat (tracing) memengaruhi tingkat pemeriksaan (testing) sehingga kasus baru akan terdeteksi. Lambannya tracing di beberapa kabupaten/kota membuat kasus tidak terdeteksi berpotensi meningkat. Selain itu, temuan kasus baru harian di Sumsel cenderung berasal dari daerah-daerah tertentu.

Padahal dengan tingginya mobilitas masyarakat saat ini, potensi penularan makin meningkat.

”Ini terlihat dari tingkat temuan kasus positif (positivy rate) Covid-19 Sumsel yang masih berada di angka 27,89 persen per 14 Februari,” terang Iche.

Menurut dia, tingkat tracing dan testing paling konsisten dilakukan Kota Palembang. Sehingga, mampu menemukan puluhan kasus positif baru setiap hari dan menjadi penyumbang hampir 50 persen kasus di Sumsel.

”Saya tidak membela Sumsel, tapi Dinkes Sumsel sudah sering menyurati kabupaten/kota supaya suspect dikejar sebanyak mungkin, testing ditingkatkan, tapi 17 kabupaten/kota terlihat tidak kompak,” ujar Iche.

Meski begitu dia tidak menampik kabupaten/kota menghadapi kendala anggaran dan SDM dalam penanganan Covid-19. Namun, dia berharap tetap ada konsistensi dalam pendeteksian kasus dengan meningkatkan kapasitas tes usap.

Data Dinkes Sumsel per 14 Februari mencatat kasus konfirmasi positif Covid-19 di Sumsel telah mencapai 15.150 kasus. Angka kesembuhan berjumlah 12.882 orang (85,03 persen) dan 731 kasus kematian (4,83 persen).

”Tingkat kesembuhan Sumsel tinggi karena treatment sudah bagus, tinggal tracing dan testing gencar atau tidak. Semuanya harus kompak tidak bisa kerja sendiri-sendiri,” jelas Iche yang juga anggota tim ahli Satgas Covid-19 Sumsel.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/MfA71UTWfmI

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore