Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Desember 2020 | 17.38 WIB

Butuh Tanggul Permanen dan Tampungan Air untuk Tangani Banjir Tahunan

DI TENGAH AIR BAH: Aldo belajar secara daring di teras rumah di tengah banjir yang masih menggenangi Dusun Balong, Desa Banyulegi, Dawarbalndong, Mojokerto, kemarin (14/12). (SOFAN KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MOJOKERTO) - Image

DI TENGAH AIR BAH: Aldo belajar secara daring di teras rumah di tengah banjir yang masih menggenangi Dusun Balong, Desa Banyulegi, Dawarbalndong, Mojokerto, kemarin (14/12). (SOFAN KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MOJOKERTO)

JawaPos.com – Di Kabupaten Gresik, lima ribu lebih rumah dan ratusan hektare sawah serta tambak tergenang. Di Kabupaten Mojokerto, badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat meminta warga di kawasan terdampak tetap waspada meski banjir mulai surut.

Dua kabupaten di Jawa Timur tersebut terkena dampak banjir Kali Lamong. Ini banjir yang terjadi hampir setiap musim hujan, apalagi ketika curah hujan tinggi seperti sekarang.

Dari pantauan Jawa Pos kemarin (14/12), sejumlah titik genangan di kawasan Kecamatan Balongpanggang, Gresik, mulai surut. Begitu pula di Kecamatan Benjeng.

Jalan Raya Benjeng yang sehari sebelumnya ditutup total kemarin sudah dibuka lagi. Ketinggian air di jalan kabupaten itu terpantau 10–20 sentimeter yang sebelumnya mencapai 50 sentimeter.

Namun, seperti banjir Kali Lamong sebelum-sebelumnya, jika genangan air di dua wilayah kecamatan itu mulai surut, air bergeser ke timur. Yakni, wilayah Cerme, kecamatan lain di Gresik. Sedikitnya ada sembilan desa di Cerme yang terdampak luapan Kali Lamong.

Tarso, kepala BPBD Gresik, mengatakan, dalam dua hari terakhir banjir Kali Lamong, pihaknya belum bisa memastikan jumlah total kerugian. ’’Namun, diperkirakan sudah mencapai miliaran rupiah,” katanya kepada Jawa Pos.

Di Mojokerto, banjir luapan Kali Lamong yang melanda Dusun Balong, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, mulai surut. Hingga pukul 15.00 kemarin, ketinggian air sudah berada di angka 10 sentimeter. Meski demikian, warga tetap diminta waspada.

Baca juga: Kali Lamong Meluap, Puluhan Desa di Gresik Terendam

Penanganan Berikutnya

Sejak pemerintah pusat mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan di Jatim, Pemkab Gresik langsung bergerak cepat. Sebab, di regulasi tersebut, Kali Lamong sudah masuk proyek prioritas nasional. Kabarnya, total alokasi anggaran untuk pembangunan tanggul di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Lamong tersebut mencapai Rp 1,04 triliun.

Normalisasi Kali Lamong merupakan proyek sharing empat daerah, yakni Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, dan Kota Surabaya. Masing-masing bertugas memenuhi kewajiban pembebasan lahan. Di lahan itulah nanti dibangun tanggul.

Baca juga: Kali Lamong Meluap Lagi, 23 Desa di Gresik Tergenang

Untuk kebutuhan pembebasan lahan tersebut, Pemkab Gresik pun tahun ini telah menyelesaikan studi land acquisition and resettlement action plan (LARAP) Kali Lamong. Dari dokumen itu, diketahui berapa jumlah lahan yang harus dibebaskan hingga anggaran yang dibutuhkan.

Dari hasil studi LARAP 2020, luas lahan yang harus dibebaskan khusus di wilayah Gresik saja mencapai 280 hektare. Estimasi anggarannya mencapai Rp 800 miliar. Proyeksi kebutuhan anggaran untuk pembebasan lahan itu naik tajam. Sebelumnya, dari studi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) pada 2012, luas lahan yang dibutuhkan 149 hektare dengan estimasi anggaran Rp 600 miliar. Artinya, melonjak Rp 200 miliar.

Baca juga: Tiga Sungai Gresik Meluap, Ribuan Rumah di Selatan dan Utara Tergenang

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemkab Gresik Hermanto T. Sianturi mengatakan, melonjaknya kebutuhan anggaran untuk lahan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Kajian BBWS pada 2012 menggunakan siklus banjir lima tahunan. Sementara itu, studi LARAP 2020 menggunakan siklus banjir 10–15 tahunan dengan dampak yang lebih luas.

Selain siklus, lanjut Herman, kondisi Kali Lamong bertahun-tahun tidak ditangani. Baik berupa normalisasi maupun revitalisasi.

Akibatnya, dalam beberapa tahun, kondisi sungai mengalami penyempitan hingga sedimentasi. "Dari studi dengan melihat kondisi terakhir itulah, muncul angka yang harus dibebaskan sejumlah 280 hektare,” ucapnya.

Pada 2021 BBWS mulai mengerjakan tanggul di wilayah hilir. Pada saat bersamaan, Pemkab Gresik melanjutkan progres pembebasan lahan di wilayah tengah. Mulai Desa Iker-Iker Geger, Kecamatan Cerme, sampai wilayah hulu. ’’Untuk penanganan Kali Lamong ini, tidak semua titik dilakukan pengerjaan tanggul. Ada juga pembuatan tampungan air atau seperti waduk-waduk itu,’’ papar Herman.

Pemkab Lamongan setuju ada pembahasan bersama lintas kabupaten dan Pemprov Jatim terkait penanganan Kali Lamong. Menurut Arif Bachtiar, Kabaghumas dan Protokol Pemkab Lamongan, dari pusat ada beberapa rencana untuk Kali Lamong di wilayah Kota Soto ini.

Sesuai rencana BBWS dan Kemen PUPR, bakal dilakukan pembangunan tanggul permanen di wilayah Lamongan. "Luasnya 3,8 hektare," katanya.

Selain itu, lanjut dia, BBWS akan me-review desain Waduk Pedes, Kecamatan Sambeng. "Ini kaitan Sungai Lamong juga," imbuhnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=ZKjB_g0MfEM

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore