Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 April 2020 | 01.15 WIB

Kali Lamong Meluap, Puluhan Desa di Gresik Terendam

bayi tertidur pulas di sebuah rumah yang tergenang air di RT 04 Desa Tanjungan, Driyorejo. (Istimewa0 - Image

bayi tertidur pulas di sebuah rumah yang tergenang air di RT 04 Desa Tanjungan, Driyorejo. (Istimewa0

JawaPos.com – Kali Lamong masih terus menebar ancaman banjir di wilayah Gresik Selatan. Relatif cepat surut, banjir, surut, banjir lagi. Demikian kondisinya dalam beberapa bulan terakhir. Hujan deras yang mengguyur Kamis malam (9/4) kembali membuat Kali Lamong meluap. Puluhan desa dan ratusan hektare sawah pun tergenang.

Hingga kemarin (10/4), tercatat sepuluh desa di sejumlah kecamatan wilayah selatan terdampak. Di antaranya, Balongpangang, Benjeng, dan Cerme. Ketinggian air 20 sentimeter hingga 1 meter. Salah satu kawasan langganan banjir Kali Lamong terparah adalah Perumahan Cerme Prisma Land, Desa Guranganyar, Cerme.

Berdasar catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik, di Perumahan Prisma Land, 270 rumah terendam. ”Sudah kali kesekian, sudah tak terhitung jumlah kerugian,” ungkap Endro Priyono, warga perumahan.

Dia menceritakan, air mulai menggenangi kawasan perumahan Kamis sore (9/4). Air itu merupakan kiriman dari selatan. Ketinggian air terus meningkat karena Kamis malam hujan cukup deras. ”Ketinggian air mencapai 1 meter,” keluhnya.

Musibah tersebut bukan kali pertama menerjang wilayah itu. Tercatat, selama empat bulan terakhir Endro bersama penghuni lain di perumahan tersebut lima kali kebanjiran. ”Mengungsi terus. Wilayah kami juga paling lama surutnya karena kondisi saluran irigasi yang jelek dari pihak pengembang,” ujar Endro dengan nada kesal.

Seperti banjir-banjir sebelumnya, ratusan warga perumahan tersebut memilih untuk mengungsi ke rumah sanak famili masing-masing. Namun, sebagian menumpang sementara di pengurus RT setempat.

Sementara itu, sejumlah desa di wilayah Kecamatan Driyorejo juga terdampak luapan kali afvoer. Air juga meluber dari sungai di bawah kewenangan Provinsi Jatim itu sehingga menggenangi desa-desa sekitar. Genangan terparah terlihat di beberapa desa. Antara lain, Sumput, Kesamben, Tanjungan, dan Driyorejo. ”Banjir kali ini terparah dalam sepuluh tahun terakhir,” kata Nur Musyafak, warga Driyorejo.

Kepala BPBD Gresik Tarso Sagito menyebutkan, ada dua faktor penyebab banjir Kali Lamong. Yaitu, luapan Kali Lamong sendiri dan intensitas hujan yang memang sangat tinggi. ”Status Kali Lamong kami naikkan menjadi siaga merah, warga diharap semakin waspada. Namun, dari BMKG, intensitas hujan ke depan diprediksi berkurang,” paparnya.

Ketua Komisi III DPRD Gresik Asroin Widyana menjelaskan, tahap studi LARAP (land acquisition and resettlement action plan) untuk rencana normalisasi Kali Lamong masih berlangsung. Studi itu dilakukan untuk mengetahui kebutuhan anggaran pembebasan lahan. ”Yang jelas, anggaran Kali Lamong di APBD masih menjadi prioritas. Tidak ada perubahan atau realokasi untuk penanganan Covid-19. Kami juga meminta tim pemkab terus berjalan untuk proyek Kali Lamong itu,” tandasnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore