
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meninjau titik pengamatan di kawasan perbatasan lima daerah Bandung Raya pada hari pertama penerapan PSBB pada Rabu (22/4). Humas Pemprov Jabar/Antara
JawaPos.com–Berdasar hasil peninjauan di titik-titik tertentu, intensitas lalu lintas menurun drastis saat hari pertama pelaksanaan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Bandung Raya pada Rabu (22/4).
”Laporannya, jumlah pengguna lalu lintas menurun drastis. Kami monitor di Jabodetabek selang berapa hari itu kembali (ramai) lagi. Makanya kita harus konsisten,” ujar Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil atau Kang Emil seperti dilansir dari Antara saat meninjau titik-titik pengamatan di lima daerah Bandung Raya pada hari pertama pemberlakuan PSBB pada Rabu (22/4).
Kelima titik tersebut gerbang tol Pasteur Kota Bandung, Jalan Amir Mahmud Kota Cimahi, gerbang tol Padalarang Kabupaten Bandung Barat, terowongan tol Kopo Kabupaten Bandung, dan perbatasan Bandung-Jatinangor Kabupaten Sumedang.
Kang Emil mengusulkan, untuk menghindari kelonggaran disiplin, kepala daerah dan kapolres memberlakukan pembagian jam kerja. ”Saya titip juga Pak Bupati, Pak Kapolres, penjagaan check point jangan hanya siang. Justru banyak laporan kalau di Jabodetabek itu malam jadi ramai lagi, jadi mungkin dibikin shift saja,” kata Kang Emil.
Selain itu, dia juga mengimbau aparat setempat terus mengecek dua hal, yakni protokol kesehatan dan niat berkegiatan. Protokol kesehatan, mengharuskan masyarakat yang keluar rumah untuk memakai masker dan menjaga jarak aman dalam kendaraan. Sedangkan niat berkegiatan, sudah diatur delapan sektor yang dikecualikan pada PSBB yakni kesehatan, pangan, logistik, penyedia kebutuhan retail, komunikasi, energi, keuangan dan perbankan, serta industri strategis.
Menurut dia, tujuan PSBB Bandung Raya adalah menurunkan penyebaran Covid-19. Berdasar tes masif sebanyak 0,6 persen dari jumlah penduduk daerah PSBB, akan diketahui lokasi penyebaran virus yang harus dilokalisasi. Sedangkan kedisiplinan masyarakat pada aturan PSBB akan meminimalisasi pergerakan yang berisiko. Hal itu menurut Kang Emil merupakan ukuran keberhasilan PSBB.
”Pada akhir 14 hari (PSBB), tes masif menemukan lokasi virus untuk dilokalisasi, disiplin tidak ada lagi pergerakan. Nah, harusnya keberhasilan itu bisa diukur. Maka setelah 14 hari PSBB, bisa lebih rileks. Tapi kalau PSBB tanpa tes masif, nanti kita gak punya ukuran apa keberhasilannya,” ujar Kang Emil.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=59Nx08Fe7K0
https://www.youtube.com/watch?v=302pv5e3dlQ
https://www.youtube.com/watch?v=ObkbBFmVo1M

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
