
Sejumlah murid sekolah dasar melihat pengerjaan mural.
JawaPos.com - Dinding beton yang berada di Kawasan Jalan Perjuangan, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Sunggal terlihat berbeda dari biasanya. Dinding yang biasa bercat putih polos kini terlihat lebih indah dengan adanya mural yang menghiasi, Selasa (5/3).
Mural di dinding tersebut bergambar beberapa ikon Kota Medan. Mulai dari Menara Air Tirtanadi, Istana Maimun dan banyak lainnya yang bakal dilukis.
Adalah Sugeng Hariadi, sosok di balik hadirnya mural tersebut. Dirinya lah seniman yang mengerjakan mural menjadi penambah nilai estetika di Kota Medan.
Mural itu sudah dikerjakannya sejak tiga hari terakhir. Olesan kuasnya terlihat rapi dan sangat detail. "Selesainya kira-kira sepuluh hari lah," kata Sugeng sambil memainkan kuasnya, Selasa (5/3).
Sampai hari ini, dia baru merampungkan mural sepanjang sekitar lima meter. Rencananya, mural itu akan dibuat hingga 10 sampai 15 meter.
Sugeng memang sudah lama melukis. Hobbynya itu sudah sejak tamat SMA dilakukannya. Bahkan, bapak tiga anak itu sempat mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta pada 1987 silam. Namun dia tak menamatkan studinya.
Pengalamannya memlukis mural tak perlu di ragukan. Sejumlah kafe di Kota Medan sudah dihiasi oleh muralnya. "Lebih sering lukis pemandangan. Dulu di kanvas, sekarang di dinding. Di rumah sakit juga pernah," ujarnya sambil mengaduk cat.
Lurah Tanjung Rejo Aisyah Rambe mengungkapkan, mural itu memang sengaja dibuat untuk swafoto. Paling tidak, kaum milenial yang melintas bisa mengabadikan gambar.
"Kita membuat Kampung Selfie berbentuk mural dan warga langsung yang melukis. Menonjolkan ikon Kota Medan, yaitu PDAM Tirtanadi, Istana Maimun, Masjid Raya, Kantor Walikota, pak Wali, Camat dan lurah setempat," kata Aisyah Rambe.
Mural ini, lanjutnya, juga jadi media promosi Kota Medan. Mungkin saja meniru Yogyakarta, Surabaya atau pun Banyuwangi yang kaya akan seni mural.
"Kita juga buat inovasi disetiap pohon kita buat sarung pohon. Tujuannya itu supaya tidak ada pemasangan spanduk-spanduk liar. Dan sarung pohon juga dari partisipasi masyarakat. Sarung pohon itu tidak di paku, tapi di bungkus," ujarnya.
Kata Aisyah, ini adalah inisiatif masyarakat. Dananya juga swadaya dari masyarakat. Dia pun berencana membuat kompetisi mural jika lokasi itu semakin berkembang.
"Mungkin kedepan bisa saja di kompetisikan, untuk menarik minat para seniman pembuat mural," pungkasnya.
Mural itu sontak jadi perhatian warga yang melintas. Sesekali warga berhenti untuk memberikan pujian atau mengambil satu dua jepretan dengan kamera telepon genggamnya.
"Ginilah baru keren. Jadi enggak seram lagi kalau lewat sini kesannya," kata Rusdi, warga sekitar yang kebetulan melintas.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
