Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Februari 2019 | 12.50 WIB

Melihat Sejarah Arak-arakan Naga yang Berumur 100 Tahun di Ulu Banteng

Mastoni, 80, warga Ulu Banteng, Kalimantan Selatan, yang merupakan pewaris tradisi naga yang biasa digunakan untuk arak-arakan pengantin. - Image

Mastoni, 80, warga Ulu Banteng, Kalimantan Selatan, yang merupakan pewaris tradisi naga yang biasa digunakan untuk arak-arakan pengantin.


JawaPos.com - Bagi kalian yang ingin mempersunting warga Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, siap-siap diarak keliling kampung menggunakan naga. Naga? Naganya berupa rangkaian kayu dan bambu yang dihiasi berbagai kain, hingga berbentuk menyerupai naga.


Untuk membuat naga, sangat mudah bagi warga setempat. Warga Ulu Benteng sangat ahli untuk membuat naga. Yang dibuat hanya badan naga. Sedangkan bagian kepala dipinjam dari pemiliknya.


Arak-arakan menggunakan naga, biasanya diiringi dengan tabuhan hadrah. Naga yang diarak bersama pengantin ditopang puluhan warga. Warga secara bersama-sama mengangkat naga sepanjang jalan.


Saat diarak warga inilah, pengantin yang menaiki naga harus siap mental dan tenaga yang ekstra. Pasalnya warga yang mengikat naga, bisa kesurupan menggoyang-goyangkan naga secara brutal. Bahkan tidak jarang pengantin hampir terjatuh dari tempat duduknya.


Ada lelucon yang umum di sana. Karena kerasnya menggoyang naga, tidak jarang malam pertama, pengantin harus ke tukang urut, karena sakit pinggang.


"Saat diarak harus pegangan yang kuat, naga seperti odong-odong tetapi dengan gerakan yang brutal," ujar Randi, warga Ulu Benteng yang pernah diarak menggunakan naga. dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Jumat (22/2).


Randi menambahkan tidak bisa menolak keinginan orang tuanya untuk arak-arakan pengantin menggunakan naga, atau istilahnya baarak pengantin/baarak penganten. Semua warga di Ulu Benteng juga sama.


"Namanya sudah menjadi tradisi, pasti sudah melekat di masyarakat," ujarnya.


Masih eksisnya baarak naga membuat penulis penasaran asal-usul naga ini. Penulis mencoba menemui pemilik kepala naga di Ulu Benteng.


Kepala naga ini di miliki Mastoni, 80,wanita tetua masyarakat Ulu Benteng RT 10 Kelurahan Marabahan. Mastoni menceritakan asal-usul tradisi baarak naga.


Menurut Mastoni, tradisi baarak pengantin menggunakan naga sudah sekitar 100 tahun yang lalu. Bahkan sebelum dirinya lahir.


"Naga ini sudah digunakan untuk arak-arakan pengantin sejak zaman ibu saya dulu sekitar 100 tahun yang lalu," katanya.


Mastoni mengungkapkan naga pertama kali diperkenalkan oleh mendiang mertuanya. Karena ibu mertuanya sering diganggu sesosok naga. Sehingga dibuat kepala naga yang dijadikan sebagai arak-arakan pengantin.


"Mendiang ibu mertua sering saat mandi di jamban, merasa diselimuti naga, sepintas terlihat sepintas tidak," ceritanya yang mengatakan mertua lelakinya yang pertama membuat dengan maksud mengusir gangguan itu, sebelum kemudian tradisi membuat kepala naga diteruskan mendiang suaminya.


Generasi Ketiga

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore