
DIKLAT DISABILITAS: Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan sambutan saat pembukaan Diklat Disabilitas, Kamis (31/1).
JawaPos.com - Sedikitnya 268 penyandang disabilitas mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi dan penempatan kerja) di Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil, Solo, Jateng, Kamis (31/1). Diklat ini merupakan implementasi nota kesepahaman dari dua kementerian, yakni Kementerian Perindustrian dan Kementerian Sosial (Kemensos) yang sudah ditandatangani 27 Desember 2018 lalu.
Diharapkan dengan adanya Diklat ini bisa semakin memberikan peluang bagi peningkatan kesejahteraan para penyandang disabilitas.
Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, program diklat 3 in 1 ini menjadi bentuk nyata dari komitmen pemerintah. Yakni memenuhi hak para penyandang disabilitas. Maka dari itu, pihaknya berharap para penyandang disabilitas bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
Wujud nyata pemerintah menjamin hak-hak warga negara. Pemerintah berkomitmen memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada penyandang disabilitas. "Agar kesempatan ini bisa benar-benar dimanfaatkan, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup saudara," ungkapnya disela kegiatan.
Lebih lanjut Agus mengatakan, kegiatan ini juga bisa menjadi contoh serta motivasi bagi penyandang disabilitas yang lainnya di Indonesia. Sehingga, para penyandang disabilitas bisa terus bersemangat dalam berkarya dan terjun ke lapangan kerja.
"Kami akan terus berupaya untuk memberikan peluang dan akses yang setara bagi penyandang disabilitas di bidang pekerjaan," ucapnya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menyampaikan, Diklat 3 in 1 ini diarahkan ke sektor industri garmen dan juga alas kaki. Menurutnya, selama ini sektor industri kecil dan alas kaki mampu untuk memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Baik melalui penerimaan devisa dari ekspor maupun dari penyerapan tenaga kerja yang jumlahnya cukup besar.
"Apalagi industri tekstil ini merupakan salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya dalam memasuki era 4.0," katanya.
Mereka yang mengikuti Diklat, lanjut Airlangga, akan mendapatkan sertifikasi kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kemudian, para peserta Diklat ini juga akan ditempatkan di 11 perusahaan yang bergerak di sektor industri garmen dan alas kaki.
Misalkan yang mengikuti Diklat di Balai Diklat Industri (BDI) Jogjakarta yang diikuti sebanyak 103 peserta akan ditempatkan di PT Wangta Agung Surabaya, PT Eco Indonesia Sidoarjo, PT Dwi Prisma Sentosa, Ngawi, PT Pradipta Perkasa Makmur, Jombang dan UD Teratai, Tuban.
Sedangkan 165 peserta yang mengikuti Diklat di BDI Surabaya dan Akademi Komunitas Industri TPT akan ditempatkan di PT Laps, Boyolali, PT Sri Rejeki Isman, Sukoharjo, PT Cahaya Global Apparel, Boyolali, PT Globalindo Intimates, Klaten, PT Juni Safaritex, Boyolali dan PT Jaya Perkasa Textile Sukoharjo.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
