Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 31 Januari 2019 | 12.55 WIB

Bertahan dengan Cara Manual Selama Puluhan Tahun

Proses produksi batu bata merah di Desa Brongkal, Pagelaran, Malang. - Image

Proses produksi batu bata merah di Desa Brongkal, Pagelaran, Malang.

Desa Brongkal, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim), menjadi sentra industri batu bata merah selama puluhan tahun. Bahkan hasil produksinya sudah merajai pasar Jatim.


Dian Ayu Antika Hapsari, Malang


---


Kesibukan tampak terlihat di sebuah pondok sederhana di Desa Brongkal, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (30/1) sore. Hujan rintik-rintik usai deras mengguyur tak menyurutkan semangat Nahruji. Pria 43 tahun itu tampak sibuk menyusun batu bata merah setengah jadi hasil olahan tangannya. Batu bata yang masih berwarna coklat disusun hingga tinggi. Sementara di bagian bawahya dibuatkan rongga.


Tak lama, Nahruji menumpuk sekam bercampur abu gosok. Sejurus kemudian, Nahruji membakar sekam dan abu gosok. Rupanya bahan itu untuk membakar batu bata merah untuk menjadikannya lebih kuat dan padat. Aroma khas hasil bakaran batu bata merah segera menguar. Menjadi satu dengan aroma tanah basah usai hujan.


Bapak dua anak itu mengaku sudah 20 tahun menekuni pekerjaan sebagai perajin batu bata merah. Awalnya selepas lulus dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau setingkat SD, dia membantu tetangganya memproduksi batu bata merah. "Pertama buruh dulu. Belajar membuat dari sana. Setelah bisa, baru berani membuat usaha sendiri, " katanya.


Sebenarnya proses menyulap tanah liat menjadi batu bata merah cukup sederhana. Awalnya, tanah liat dicampur dengan air. Lalu bahan diaduk hingga membentuk adonan lumpur liat.  Selanjutnya, adonan tanah liat dicetak dan dijemur. "Jika panas sehari saja kering. Tapi kalau hujan terus seperti sekarang, ya berhari-hari," imbuhnya.


Setelah dijemur hingga kering, baru kemudian dilumuri abu gosok dan dibakar. Masa pembakaran selama dua minggu. "Bakarnya setiap pagi dan sore selama dua minggu," beber Nahruji.


Selama sehari, Nahruji mengaku bisa membuat 300 keping batu bata merah. Batu bata merah lantas dijual per 1.000 keping. Satu kepingnya dibanderol Rp 350 ribu. Soal pemasaran, Nahruji mengaku tidak pusing. Sebab selalu ada pembeli yang datang ke tempatnya. Mulai dari perorangan hingga toko bangunan. Bahkan pembelinya tak hanya dari Malang Raya. Namun juga ada yang dari luar kota. "Tapi kalau musim hujan begini sepi pembeli," keluhnya.


Sementara itu, Kades Brongkal Ali Hasan mengaku desanya sudah puluhan tahun menjadi sentra industri batu bata merah. Hingga saat ini masih ada sekitar 20 perajin yang eksis. Mereka pun tetap menggunakan cara manual alias tanpa bantuan mesin pencetak batu bata. "Ada satu RW yang mayoritas warganya menjadi perajin batu bata merah. Sudah dikirim kemana-mana," imbuh Ali Hasan.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore