
Bermain di sawah, mengunjungi Galeri Injil dan belajar gamelan adalah cara Desa Peniwen mengenalkan sejarah desa.
JawaPos.com - Festival Babad Peniwen digelar pada libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Selain festival, kegiatan itu digelar untuk mengenalkan sejarah, budaya dan tata cara masyarakat hidup di desa.
Belajar sejarah desa ini, terlihat kental dalam pelajaran gamelan dan pementasan wayang. Wayang modern yang dipentaskan, menceritakan soal sejarah Desa Peniwen.
Dalam sejarahnya, Desa yang memiliki 99 persen penduduk pemeluk Kristen itu dibuka oleh Zangkioes Kasanawi tahun 1830. Tahun ini, Zangkioes menyebarkan agama Nasrani di desa itu.
Kemudian, dalam wayang juga diceritakan soal pendirian gereja pertama di Peniwen, pada 1930. Selanjutnya, juga peristiwa terbunuhnya 12 anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan lima warga dalam pertempuran dengan Belanda, Februari 1949. Kematian para pahlawan bangsa itu kemudian diabadikan melalui Monumen Peniwen Affair.
Panitia Pelaksana Didik Baskoro menjelaskan, festival ini sengaja digelar setelah Natal dan menjelang Tahun Baru. Selain karena desa ini dikenal memiliki populasi umat Nasrani yang kental, namun juga momen yang pas untuk berlibur.
Festival yang digelar sejak Kamis (27/12) hingga Minggu (30/12) ini, menyedot animo 170 orang tamu. Didik menyebut, para tamu berasal dari luar kota bahkan ada juga yang datang dari Kalimantan.
Selama beberapa hari, tinggal di Peniwen dan merasakan kehidupan masyarakat desa. Misalnya saja bertani, membajak sawah hingga bermain air dan gepuk bantal bergelut dengan lumpur sawah.
"Memang sengaja kami tampilkan suasana khas pedesaan. Kebanyakan mereka berasal dari kota. Ingin merasakan kehidupan asli di desa. Para tamu sangat senang," tegas dia, kepada JawaPos.com, ditemui di Desa Peniwen, Sabtu (29/12).
Festival yang pertama kali digelar oleh Komunitas Wisata Budaya Desa Peniwen (WBDP) ini, juga menyajikan Galeri Injil yang menampilkan replika 80 lukisan soal Yesus Kristus.
Didik tambahan, selama live in, para tamu tinggal di rumah-rumah penduduk yang disulap menjadi home stay. Mereka menamakan dengan Griyo Ngaso. Paket per malam untuk per orang dibanderol dengan harga Rp 75 ribu. Sudah termasuk makan tiga kali.
"Karena selain ingin berdayakan warga, kami juga ingin untuk mengenalkan desa kami ke masyarakat luar," tegas dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
