
DETEKSI DINI: Early Warning System (EWS) atau alat deteksi dini bencana ciptaan kelompok Tangguh Bencana Kalipancur, Kota Semarang, Sabtu (8/12).
JawaPos.com - Sejumlah perangkat Early Warning System (EWS) gelombang tinggi di wilayah Jawa Tengah dinyatakan tidak berfungsi secara optimal. Peralatan pendeteksi bencana dini ini kebanyakan mengalami korslet akibat korosi.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sarwa Pramana, Jumat (28/12). Ia menyebut EWS itu rusak pada bagian receiver atau penerima sinyal. Sehingga sirine tak berfungsi normal.
Saat ini, imbuhnya, EWS tsunami atau gelombang tinggi sudah terpasang di daerah rawan seperti pesisir Cilacap, Kebumen, Purworejo, Wonogiri. Kendati demikian, ia tak merinci berapa jumlah perangkat EWS yang rusak. Intinya, saat ini beberapa daerah tetap masih membutuhkan EWS. Seperti di Wonogiri yang katanya masih kurang beberapa.
"Yang paling banyak dibutuhkan alat pendeteksi EWS di Cilacap. Karena ada dua kecamatan yang berada di pesisir pantai," ujarnya usai melepas relawan dan bantuan untuk korban tsunami ke Banten dan Lampung, di kantornya, Kota Semarang.
Perangkat EWS itu sendiri sedianya memang dipasang di daerah-daerah rawan terjangan ombak karena potensi gempa. Termasuk gelombang tinggi maupun rob dari perairan Samudera Hindia. "Jadi untuk Cilacap sendiri banyak dipasang di sepanjang garis pantai. Sebab di Kabupaten Cilacap merupakan pertemuan sesar (patahan) yang mampu menimbulkan gempa bumi," ungkapnya.
Sebagai antisipasinya, pihaknya bakal berkoordinasi dengan pihak terkait sembari menunggu perbaikan perangkat EWS tadi. Sekalipun terjadi gempa cukup besar di lokasi tersebut, baik ada potensi tsunami atau tidak terpenting warganya dievakuasi terlebih dahulu.
Guna suksesnya langkah tersebut, maka komunitas kebencanaan perlu dimaksimalkan. Salah satu caranya dengan memanfaatkan semacam grup Whatsapp agar informasi cepat menyebar.
"Atau pengurus masjid akan segera memberi peringatan dini tsunami secara manual lewat pengeras suara, jika gempa terasa kuat di pesisir Cilacap atau menerima informasi dari kami," cetusnya.
Di sisi lain, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mewanti-wanti agar masyarakat pesisir, pendatang, maupun pengelola pantai terus memonitor imbauan yang ada dari BMKG. Utamanya soal potensi gelombang tinggi.
"Saya sampaikan hati-hati, seluruh operator harus memperhatikan itu, masyarakat harus aware. Musti peduli soal itu, maka umpama yang mau ke karimunjawa, sekarang ada pesawat tiap hari lho. Anda bisa menggunakannya untuk kepentingan keselamatan. Wisata ke pantai boleh, tapi pengelola pantai tolong perhatikan info yang ada dari BMKG," imbuhnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
