Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Oktober 2018 | 22.38 WIB

Aksi Bela Tauhid, Takbir Memekik di Tanah Melayu Deli

Aksi Bela Tauhid digelar di Kota Medan Sumatera Utara - Image

Aksi Bela Tauhid digelar di Kota Medan Sumatera Utara

JawaPos.com - Masjid Raya Al Mahsun, Kota Medan disesaki oleh umat Islam dari berbagai penjuru di Sumatera Utara, Jumat (26/10). Aksi Bela Tauhid dimulai dengan salat Jumat berjamaah di Masjid peninggalan Kesultanan Deli. 


Usai Jumatan, massa menyusun barisan. Tepatnya di jalan protokol samping masjid hingga ke Jalan Sisingamangaraja. "Takbir. Allahuakbar. Allahuakbar," teriak massa.


Teriakan takbir memekik dari segala arah. Bersambut dengan kibaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid. Hampir seluruh massa memegang panji Rasulullah yang dikenal sebagai bendera Ar-Raya. Ada juga bendera yang berdasar kain putih. Namanya Al Liwa'. Namun jumlahnya tak sebanyak Ar Raya.


Di sela aksi itu, massa mengacungkan telepon genggam mereka. Merekam setiap kegiatan di lapangan. Beberapa diantaranya sibuk membuat video blogging (vlog) ataupun video live streaming di media sosial. Tak sedikit juga yang memanfaatkan momen unjuk rasa untuk tempat swafoto.


"Woy banser, kelen tengok ini. Anak Medan ini. Bukan kaleng-kaleng. Retak nanti dada kelen. Bubar kelen," ujar beberapa pemuda di depan kamera gawai nya.


Massa dikabarkan bergerak ke Polda Sumut. Tujuannya ingin membuat laporan terkait pembakaran bendera bertulis kalimat Tauhid saat Hari Santri Nasional di Garut. Banser NU yang jadi pesalahnya.


Mereka bergerak menggunakan kendaraan. Ada yang naik sepeda motor, mobil, hingga pikap. Mereka rela berdesakan untuk ikut konvoi di bawah panas terik.


Lalulintas di seputaran Sisingamangaraja sempat lumpuh. Polisi tampak sibuk melakukan pengaturan. Yang dari arah Jalan Masjid Raya menuju Sisingamangaraja diterapkan sistem buka tutup di persimpangan. Kapolrestabes Medan Kombes Dadang Hartanto sampai ikut mengatur arus kendaraan.


Orang-orang yang ikut konvoi kebanyakan memakai busana rapi. Para laki-laki menggunakan gamis dan koko. Yang perempuan, memakai pakaian gamis lengkap dengan hijab nan lebar lengkap dengan cadar. Pengikat kepala hitam bertuliskan kalimat tauhid juga tak ketinggalan dipakai.


Diantara barisan juga terlihat ada yang memakai pakaian ala militer. Celana dan baju loreng ditambah rompi juga. Yang lainnya ada yang memakai serba putih dengan sepatu PDL. Sepertinya itu barisan, Front Pembela Islam (FPI).


Barisan konvoi panjangnya diperkirakan 2 Km. Butuh waktu hingga setengah jam, sampai kendaraan konvoi bergerak semua. Barisan massa dikawal polisi di bagian depan sampai yang ekor.


Rudi Utama, salah satu massa aksi mengatakan dia rela ikut aksi untuk membela kalimat tauhid. Dia merasa sakit hati karena pembakaran bendera Tauhid.


"kita harus ikut. Ini aksi serentak. Kabarnya di beberapa daerah juga ada. Umat muslim merasa terpanggil dengan ajakan aksi ini," katanya.


Forum Umat Islam (FUI) Sumut mengecam pembakaran bendera. FUI menilai ada oknum yang ingin memecah belah Islam atas pembakaran bendera tersebut.


"Ada pihak tertentu yang menunggangi agar terjadinya perpechan umat Islam secara Internal. Perpecahan elemen bangsa umat Islam sebagai garda terdepan untuk mewujudkan semangat persatuan dan kesatuan NKRI," kata Ustadz Indra Suheri.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore