
TUTUP SEMENTARA. Kafe di Ruko Sentra Eropa III, Blok A-C6 Balikpapan Baru berhenti beroperasi sejak pelanggannya keracunan pada Minggu (2/9).
JawaPos.com – Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan belum menerima hasil tertulis dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Samarinda terkait hasil uji es krim yang diduga beracun. Kendati demikian, BPOM telah menyampaikan bahwa terdapat bakteri patogen (penyebab keracunan) pada bahan baku es krim yang diproduksi salah satu kafe di kawasan Balikpapan Baru tersebut.
Dikonfirmasi, Wali Kota Rizal Effendi mengaku sudah mendengar. Namun, ia menegaskan belum tahu secara detail hasil uji dari BPOM Samarinda.
"Yang jelas, pemerintah kota akan melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha tersebut. Sudah menjadi tugas dari pemerintah untuk memberikan pembinaan terhadap UMKM," kata Rizal dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Jumat (14/9).
Dia menjelaskan, pelaku usaha dilarang berjualan untuk sementara waktu. Kemudian, dia meminta DKK dan Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM untuk melakukan pembinaan.
Terutama tentang bagaimana cara penyimpanan yang baik dan sesuai standar kesehatan. Terkait surat izin laik sehat yang sudah habis masa berlakunya sejak April, pelaku usaha diminta untuk memperbarui.
Kemudian ada teguran agar rutin memperbarui izin yang harus diperpanjang setahun sekali tersebut. Sebab, ketika hendak memperpanjang izin, tim teknis pemkot lebih dulu akan melakukan peninjauan ke dapur produksi UMKM tersebut.
Hal itu, sekaligus sebagai kontrol agar kejadian serupa tak terulang. "Kalau sanksi saya kira tidak. Tidak sampai di situ. Kami pemerintah lebih kepada pembinaan," kata Rizal.
Bagaimana dengan para korban keracunan, pemkot menyerahkan kepada pelaku usaha untuk diselesaikan dengan baik. Sebelumnya, Kepala Balai Besar BPOM Samarinda Abdul Rahim mengatakan, adanya bakteri patogen disebabkan proses pengolahan es krim di kafe tersebut yang kurang higienis.
"Hasil uji laboratorium, memang ditemukan bakteri yang seharusnya tidak ada di makanan. Kami curiga salah satu bahan bakunya kurang bersih. Apalagi susu, rentan sekali ditumbuhi bakteri. Gizinya (susu) tinggi. Bakteri pun suka dan dijadikan makanannya," ungkapnya kepada Kaltim Post (Jawa Pos Group) saat ditemui di kantornya Rabu (12/9).
Abdul Rahim melanjutkan, proses pengujian terhadap sampel es krim tidak asal. Pihaknya terlebih dulu memastikan berapa lama efek yang diterima tubuh manusia setelah mengkonsumsi es krim beracun tersebut. Hasilnya, bergantung pada kekebalan tubuh seseorang.
"Ada yang langsung menerima efek ada yang berjam-jam kemudian," terangnya.
Dia mengimbau agar masyarakat dan pelaku usaha kuliner lebih memperhatikan masalah kebersihan ketika mengolah makanan. Apalagi yang berbahan dasar susu.
"Susu kalau sudah basi, tidak bisa dibedakan. Penyimpanan susu pun harus diperhatikan betul-betul. Tidak bisa asal. Apalagi dibiarkan terbuka di dapur. Bakteri bisa datang dari mana saja," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
