Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Maret 2018 | 07.17 WIB

Ruhana Kuddus Diragukan Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

Prof Taufik Abdullah memberikan pandangannya terhadap sosok Ruhana Kuddus usai menggelar seminar Nasional pengusulan Ruhana Kuddus menjadi pahlawan Nasional di Auditorium Gubernuran Sumbar, Rabu (28/3). - Image

Prof Taufik Abdullah memberikan pandangannya terhadap sosok Ruhana Kuddus usai menggelar seminar Nasional pengusulan Ruhana Kuddus menjadi pahlawan Nasional di Auditorium Gubernuran Sumbar, Rabu (28/3).

JawaPos.com - Diskusi seminar nasional gelar Pahlawan Nasional untuk Ruhana Kuddus sempat berjalan alot. Hal itu dipicu komentar pedas salah seorang narasumber yang terkesan "meragukan" gerakan nyata Ruhana Kuddus dalam mendobrak emansipasi.


Kasubdit Penghargaan dan Tunjangan Kesejahteraan Keluarga Pahlawan Dirjen Pemberdayaan Sosial Kemensos Afni mengatakan, pengusulan Ruhana Kuddus menjadi pahlawan Nasional memang menjadi perhatian. Namun, karena nama besar Ruhana Kuddus tidak begitu populer. Selain itu, tidak banyak karya nyata Ruhana yang sampai hari ini dirasakan masyarakat banyak.


Kondisi ini, membuatnya pesimis jika tokoh pers perempuan Indonesia tersebut dinobatkan menjadi pahlawan Nasional. "Tokoh yang mendapat gelar pahlawan itu banyak meninggalkan bukti. Seperti sekolahnya ada dimana-mana, namanya diabadikan di rumah sakit dan sebagainya," kata Afni dalam seminar yang digelar Auditorium Gubernuran Sumbar, Rabu (28/3).


Komentar tersebut langsung mengundang reaksi dari peserta seminar. Salah satunya disampaikan ketua yayasan Kerajinan Amai Setia (KAS), Zulfikar Syaiful Sulun. "Hasil karya apa yang masih perlu kami sampaikan pada ibu tentang perjuangan Ruhuna Kuddus," tanya Zulfikar Syaiful Sulun.


Sampai hari ini, Yayasan Kerajinan KAS yang didirikan Ruhana Kuddus sejak 107 silam di Nagari (Desa) Koto Gadang masih berdiri dan aktif beroperasi. "Berkunjunglah ke sana. Kami masih bekerja dan membina para perempuan di Koto Gadang. Kami masih menyulam, menjahit, itu peninggalan dan pendidikan dari Ruhana Kuddus," ungkapnya.


"Memang nama Ruhana Kuddus kurang populer, karena kurang dibicarakan dan kurang dipromosikan," sambung ibu-ibu lainnya yang turut menimpali.


Menurut Afni, banyak faktor dan penilaian yang harus dilewati nama-nama tokoh yang diusulkan untuk lolos menjadi Pahlawan Nasional. Ruhana Kuddus misalnya, juga pernah diusulkan menjadi pahlawan Nasional pada tahun 2006 lalu.


Saat itu, ada 7 nama yang diusulkan. Namun, Ruhuna tidak lolos menjadi empat terbaik hingga 1 nama yang dipilih Presiden untuk menjadi pahlawan.


"Jadi, saya tidak katakan Ruhana jelek. Tapi, tidak seluruhnya yang diusulkan menjadi pahlawan. Kita tidak tau, bisa saja nanti saat dilakukan penilaian Ruhana masuk atau kalah dengan nama tokoh-tokoh lain," katanya.


Tahun 2018 ini lanjut Afni, sudah ada 5 nama tokoh yang diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Jika dari lima ini, Ruhana Kuddus yang terbaik dan dipilih Presiden, maka Ruhana menjadi Pahlawan Nasional.


"Saat ini yang harus dilakukan adalah, melengkapi semua arsip-arsip yang dibutuhkan dalam penilaian. Seperti foto, dokumen dan sebagainya. Sehingga, semua kekurangan bisa diperbaiki dan Ruhana menjadi pahlawan Nasional. Nanti, ada tim daerah 13 orang yang akan menilai," bebernya.


Sementara itu Prof Taufik Abdullah memiliki padangan berbeda. Menurutnya, Ruhana Kuddus sejak awal terlihat dari keaktifannya menghidupkan dunia literatur. Bahkan, Ruhana tercatat sebagai wartawati pertama di Indonesia.


"Dia memperjuangkan emansipasi melalui tulisan-tulisannya. Ruhana ikut dalam perkembangan literatur Minangkabau yang turut menjadi perdebatan soal hak perempuan untuk bekerja dan setara dengan laki-laki," kata salah satu Sejarawan Indonesia itu.


Lebih lanjut, lelaki beruban yang pernah menjabat Ketua LIPI itu menerangkan, di masanya Ruhana memang harus diakui hebat. Sebab, di era tersebut, Ruhana telah mampu mendirikan Yayasan Kerajinan Amal Setia (KAS) di Koto Gadang. Yayasan yang mewadahi perempuan-perempuan Minangkabau untuk berlatih sulaman, menjahit dan sebagainya.


"Kalau dilihat dari alur sejarah yang dikerjakan Ruhana biasa-biasa saja. Tapi, jika kita memberikan makna dalam, nilainya akan dirasakan. Misalnya, si A menembak si B, selesai. Sejarahnya hanya peristiwa penembakan. Namun, akibat penembakan itu lahirlah kemerdekaan. Begitu juga yang ditempuh Ruhana," paparnya.

Editor: Budi Warsito
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore