
Tatung melaksanakan ritual cuci jalan sebelum perayaan Cap Go Meh di Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang, persimpangan Jl. Sejahtera, Kamis (1/3).
JawaPos.com – Ada yang menarik di setiap perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat. Sehari sebelum puncak perayaan, sejumlah ruas jalan protokol pada pagi hingga sore hari mulai dipadati para tatung yang akan melaksanakan ritual cuci jalan, Kamis (1/3).
“Ritual tatung cuci jalan tersebut sebagai pertanda untuk membersihkan kota dari roh-roh jahat menjelang Cap Go Meh dan menjaga keselamatan warga,” ujar Nawir, Ketua Vihara Tri Dharma Bumi Raya, atau lebih dikenal dengan Pekong Tua, dilansir dari RakyatKalbar, Jumat (2/3).
Ritual cuci jalan dilakukan dengan mendatangi kelenteng atau vihara dan menggelar doa keselamatan. Nawir mengatakan, tatung yang melakukan ritual di Vihara Tri Dharma Bumi Raya tidak terbatas.
Para tatung dari daerah manapun boleh melakukan ritual di situ. Setelah melaksanakan ritual, para tatung langsung mengitari Kota Singkawang.
Ritual ini mendapat perhatian para wisatawan dari luar Kalimantan Barat. Mereka mengabadikan momen tersebut, lantaran di tempat asal mereka tidak ditemukan adanya tradisi serupa jelang perayaan Cap Go Meh.
Pelaksanaan ritual para tatung tidak hanya dilakukan di Vihara Tri Dharma Bumi Raya saja. Di wilayah tetangga, yaitu di Kabupaten Sambas, juga digelar ritual serupa.
Ketua Panitia Cap Go Meh 2018 Kota Sambas, Cung Jung Min alias A Min, mengatakan rute pelaksanaan cuci jalan sama saat pelaksanaan pawai tatung.
“Dimulai dari Kelenteng Lian Thing, kemudian menuju arah Panji Anom, simpang tiga Polsek Sambas, masuk ke Jalan Gusti Hamzah, Jalan Lumbang, dan kembali ke kelenteng,” paparnya.
A Min menuturkan, ada sekitar 50 tatung yang mengikuti pawai tatung, baik tandu maupun perorangan. Pawai tatung ini dimulai sekitar pukul 08.00 WIB.
Sementara itu pada hari yang sama di Pontianak, sebanyak 28 replika naga akan memeriahkan puncak agenda Cap Go Meh. Ketua Panitia Cap Gomeh 2569 Pontianak, Sugioto alias Riko menyebut rute arak-arakan naga sama dengan tahun lalu.
“Jadi hari H-nya 2 Maret. Kita mulai untuk arak-arakan naga setelah salat Jumat,” tuturnya, Kamis (1/3).
Riko menuturkan, pawai atau arak-arakan naga dimaknai sebagai puncak dari perayaan Imlek dan hari penutup. Sehingga acaranya dikemas sedemikian rupa dan meriah.
Soal naga ini, Riko menjelaskan, bukan hanya perkara kejahatan melainkan juga mistik. Warga keturunan Tionghoa percaya jalan yang dilalui arak-arakan naga akan terhindar dari bala.
Sebelum pawai dimulai, ada ritual mengundang ruh naga masuk ke replikanya. Setelah itu, barulah naga diarak keliling jalan sebagai penolak bala.
“Setelah selesai harus dibakar, tak boleh disimpan. Karena kita pinjam sama Raja Langit roh naganya, maka harus dipulangkan dengan cara dibakar,” kata Riko.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
