Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 November 2017 | 04.22 WIB

Tidak Bisa Hadir di Medan, Ini Yang Dilakukan Komunitas Batak di Solo

KEARIFAN NASIONAL: sejumlah penari dari komunitas Batak Solo menampilkan tarian Tortor saat CFD di Jalan Slamet Riyadi, Minggu (26/11). - Image

KEARIFAN NASIONAL: sejumlah penari dari komunitas Batak Solo menampilkan tarian Tortor saat CFD di Jalan Slamet Riyadi, Minggu (26/11).

JawaPos.com - Kemeriahan prosesi ngunduh mantu putri Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution tidak hanya dirasakan di Medan. Sebagian warga Solo juga merasakannya. Ini seperti terlihat di kawasan Solo Car Free Day (CFD), Minggu (26/17). 10 anggota dari komunitas Batak Solo menampilkan tarian adat Batak atau yang disebut Monortor atau tortor.


Tidak hanya menyajikan tarian yang indah, mereka juga mengenakan busana khas lengkap dari Batak. Seperti sortali dan ulos. Busana ini semakin membuat suasana CFD layaknya berada di Batak Sumatera Utara. Mereka begitu gemulai saat menampilkan tarian yang diiringi dengan musik yang khas.


Kehadiran para penari ini sontak menyita perhatian dari para warga yang berkunjung di CFD. Beberapa orang bahkan tampak terkagum-kagum dengan sajian tari tersebut. Tidak sedikit pula yanh mencoba mengabadikannya dengan ponsel mereka.
Koordinator acara, Lusiana Gultom, membeberkan jika sengaja menhadirkan tarian khas Batak ini.


Sajian ini sebagai bentuk suka cita pada acara ngunduh mantu. "Tarian ini menjadi tarian yang sering ditampilkan saat pesta pernikahan adat. Ini sebagai rasa bahagia kami atas pernikahan Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu," terang Lusiana kepada wartawan, Minggu (26/11).


Lusiana menambahkan, tarian Tortor ini adalah tarian purba. Tarian ini berasal dari Batak Toba, Sumatera Utara. "Kalau berbicara budaya, budaya kita itu sangat banyak dan bermacam-macam. Ada Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing, dan ada juga Batak Pakpak," katanya.


Untuk menghadirkan tarian yang indah dan sarat akan makna ini para penari tidak butuh waktu lama untuk menguasainya. Lusiana mengatakan, mereka hanya butuh persiapan kurang dari satu bulan. Dan para penari yang terlibat ini tidak hanya satu marga saja, tetapi beberapa marga. "Kalau latihan kita lakukan lebih kurang tiga minggu. Kalau para penari ini ada yang dari marga Marpaung, Hutapea, Gultom, Girsang, Sitompul, dan juga marga lainnya. Kita juga ingin mengenalkan budaya kita kepada warga Solo," tukasnya.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore