
Ilustrasi
JawaPos.com - Para petani bingung dengan harga komoditi sayuran. Kini di tingkat petani hargaya terjun bebas. Para petani pun merelakan sayurannya membusuk di ladang ketimbang harus mengeluarkan ongkos panen yang justru membuat petani tambah merugi.
Ketua Kelompok Tani Tumbuh Maju Waled, Kabupaten Cirebon, Maimun, mengatakan, hampir seluruh harga komoditi sayur yang ditanam oleh mayoritas petani di Kecamatan Waled seluruhnya anjlok.
“Kita juga bingung. Padahal saat ini musim kemarau, biasanya harga-harga mahal, karena ongkos dan biaya tanam naik. Ini malah turun dan cenderung tidak laku,” ujarnya kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group), kemarin.
Dia mencontohkan, harga cabai hijau besar di tingkat petani yang saat ini dibeli oleh tengkulak dengan harga Rp4 ribu per kilogram. Harga itu tidak sebanding dengan ongkos biaya petik harian yang saat ini sebesar Rp35 ribu.
“Biasanya kalau sehari itu kita bayar orang Rp35 ribu, maksimal paling dapat 7 kilo. Jika dikali Rp4 ribu, paling banter dapat Rp28 ribu, sementara biaya yang dikeluarkan Rp35 ribu. Ketimbang harus nombok, mending tidak usah dipanen,” kata dia.
Ditambahkan, selain menghadapi harga yang rendah, petani di kecamatan Waled juga saat ini dihadapkan pada serangan ulat cabai yang tengah banyak dan massif. Tak k hanya menyerang daun, ulat juga nmenyerang buah cabai.
“Sudah harganya rendah, kita juga bingung milihnya. Hampir mayoritas petani cabai kali ini gagal. 40 puluh persen lebih ladang cabai diserang cabai, sekarang sedang kita pulihkan. Kita rawat lagi sambil menunggu panen berikutnya, siapa tahu harganya lebih baik,” tukas Maimun.
Selain harga cabai hijaiu besar yang kini tengah jatuh di tingkat petani, anjloknya harga sayur yang tak kalah sadis juga terjadi pada leunca. Sayuran yang biasanya dipakai untuk lalapan tersebut turun drastis bahkan sampai 14 kali lipat dari harga saat ini.
“Bulan lalu harganya masih Rp7 ribu, sekarang perkilonya Rp500 perak. Buat apa dipanen, mending dibiarkan tua saja, bisa buat bibit lagi. Kalau dipanen juga percuma, hasilnya tidak seberapa, pasti rugi,”ujar Karjono, salah satu petani dari Desa Ambit, Kecamatan Waled, yang ditemui Radar di ladang pertaniannya.
Tak cukup hanya di situ, dua komoditi utama petani Waled yang turun drastis juga menimpa terong ungu dan bawang merah. Saat ini harga terong di tingkat petani hanya Rp500 per kilogram, smenetara bawang merah hanya Rp 8 ribu per kilogram. “Saya tanam juga bawang Sumenep, harganya jatuh juga. Kemarau ini kita benar-benar rugi,” tukas Karjono.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
