Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 September 2017 | 06.33 WIB

Harga Sayur Anjlok, Petani Ogah Panen, Tanaman Dibiarkan Membusuk

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Para petani bingung dengan harga komoditi sayuran. Kini di tingkat petani hargaya terjun bebas. Para petani pun merelakan sayurannya membusuk di ladang ketimbang harus mengeluarkan ongkos panen yang justru membuat petani tambah merugi.


Ketua Kelompok Tani Tumbuh Maju Waled, Kabupaten Cirebon, Maimun, mengatakan, hampir seluruh harga komoditi sayur yang ditanam oleh mayoritas petani di Kecamatan Waled seluruhnya anjlok.


“Kita juga bingung. Padahal saat ini musim kemarau, biasanya harga-harga mahal, karena ongkos dan biaya tanam naik. Ini malah turun dan cenderung tidak laku,” ujarnya kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group), kemarin.


Dia mencontohkan, harga cabai hijau besar di tingkat petani yang saat ini dibeli oleh tengkulak dengan harga Rp4 ribu per kilogram. Harga itu tidak sebanding dengan ongkos biaya petik harian yang saat ini sebesar Rp35 ribu.


“Biasanya kalau sehari itu kita bayar orang Rp35 ribu, maksimal paling dapat 7 kilo. Jika dikali Rp4 ribu, paling banter dapat Rp28 ribu, sementara biaya yang dikeluarkan Rp35 ribu. Ketimbang harus nombok, mending tidak usah dipanen,” kata dia.


Ditambahkan, selain menghadapi harga yang rendah, petani di kecamatan Waled juga saat ini dihadapkan pada serangan ulat cabai yang tengah banyak dan massif. Tak k hanya menyerang daun, ulat juga nmenyerang buah cabai.


“Sudah harganya rendah, kita juga bingung milihnya. Hampir mayoritas petani cabai kali ini gagal. 40 puluh persen lebih ladang cabai diserang cabai, sekarang sedang kita pulihkan. Kita rawat lagi sambil menunggu panen berikutnya, siapa tahu harganya lebih baik,” tukas Maimun.


Selain harga cabai hijaiu besar yang kini tengah jatuh di tingkat petani, anjloknya harga sayur yang tak kalah sadis juga terjadi pada leunca. Sayuran yang biasanya dipakai untuk lalapan tersebut turun drastis bahkan sampai 14 kali lipat dari harga saat ini.


“Bulan lalu harganya masih Rp7 ribu, sekarang perkilonya Rp500 perak. Buat apa dipanen, mending dibiarkan tua saja, bisa buat bibit lagi. Kalau dipanen juga percuma, hasilnya tidak seberapa, pasti rugi,”ujar Karjono, salah satu petani dari Desa Ambit, Kecamatan Waled, yang ditemui Radar di ladang pertaniannya.


Tak cukup hanya di situ, dua komoditi utama petani Waled yang turun drastis juga menimpa terong ungu dan bawang merah. Saat ini harga terong di tingkat petani hanya Rp500 per kilogram, smenetara bawang merah hanya Rp 8 ribu per kilogram. “Saya tanam juga bawang Sumenep, harganya jatuh juga. Kemarau ini kita benar-benar rugi,” tukas Karjono.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore