
Komisaris Utama PT. Suri Nusantara Jaya, Hj Diana Dewi bersama Sandiaga Uno di ruangan Cold Storage, Kranggan, Jati Sampurna, Bekasi.
JawaPos.com - Kiprah Hj Diana Dewi di dunia importir daging cukup mentereng. Lebih dari dua dekade Diana merintis usahanya hingga menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.
Ya, sebagaimana dilansir Radar Depok Online (Jawa Pos Grup), bisnis daging Hj Diana telah menyebar ke sentero negeri.
Namun, tak banyak yang tahu jika di balik kesuksesannya, wanita kelahiran 27 Juli 1965 ini sempat pula mengalami jatuh bangun.
Sebelum merintis usaha, Hj Diana sempat bekerja di sebuah perusahaan. Singkat cerita, pada tahun 1995, dia berencana ingin menunaikan ibadah haji.
Tapi apa daya, salah satu atasannya mengatakan, jika cuti lebih dari 1 bulan, maka dirinya tidak mendapat gaji.
"Saat itukan pergi haji bisa sampai 45 hari, pas bilang ke manager saya, katanya boleh ibadah, tapi tidak mendapat gaji," kata Hj Diana.
Untuk ibadah saja, atasanya tidak mensupport dengan tidak memberikan gaji selama cuti. Dari itu ia merasa kecil hati, dan berdoa agar sekembalinya dari Tanah Suci, ia ingin mendapatkan pekerjaan yang sesuai kemampuan dan keinginan yang ada di hati.
Di tahun itu pula ibunda tercintanya terkena diabetes dan harus menanggung biaya serta mendampingi perobatannya.
"Saat itu orang tua sakit. Permasalahan saya dengan manager ternyata HRD tidak tahu, akhirnya saya ditawarkan untuk ke bidang peternakan, saya ambil di sana," tutur HjDiana.
Di 1998, ibunda tercinta Hj Diana meninggal, dan tanggung jawab sudah lepas, sehingga akhirnya ia memutuskan resign dari pekerjaannya.
"Gaji saya saat itu, Rp1,7 juta saya bagi 25 hari kerja, dapatnya sekitar Rp85 ribu per hari. Masa saya tidak bisa dapat sendiri senilai segitu per hari," tegas Hj. Diana.
Berbekal pengetahuanya dibidang marketing dan bisnis daging, akhirnya di 1998 ia membentuk PD Suri Garuda Jaya, dengan berjualan daging digarasi rumahnya yang saat itu rumah masih di Cilangkap Jakarta Timur.
Padahal, lanjut Hj Diana, di tahun tersebut Indonesia sedang mengalami krisis moneter. Namun, menurut dia, hal tersebut justru malah menambah berkah, dimana semua orang mencari makanan, dirinya banyak teman dan relasi kerja memberikan kepercayaan untuk mensuplay makanan.
"Seperti produsen ayam terbesar di Jawa Timur, memberikan bisa pembayaran tempo. Tapi saya dari konsumen dapat pembayaran cash, jadi uangnya saya putar. Saat itu Stok di garasi, cukup lumayan banyak, tidak kurang dari satu ton daging, kalau karyawan ada tiga, pengiriman, admin dan bagian penerimaan," kisahnya.
Mantap di bisnis daging sapi, Hj Diana mulai melebarkan sayap dan mengembangkan usahanya ke skala yang lebih besar dengan mengganti PD. Suri Garuda Jaya dengan PT Suri Nusantara Jaya pada 2009.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
