
Ilustrasi
JawaPos.com - Keterbatasan ekonomi warga lokal Aceh membuat mereka mudah tergiur dengan iming-iming rupiah. Iming-iming itu untuk memberikan petunjuk jalan bagi pemburu satwa langka yang sengaja datang meninggalkan perangkap di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Aceh.
Manajer Koservasi Forum Ekosistem Leuser FKL, Rudi Putra menuturkan, pemburu satwa liar dilindungi ini mereka berasal dari luar Aceh. Para penduduk lokal hanya sebagai penunjuk jalan dengan iming-iming rupiah.
“Kebanyakan berasal dari Riau, Padang dan Sumatera Utara,”sebut manajer Rudi Putra seperti dilansir Rakyat Aceh (Jawa Pos Group), Rabu (9/8) .
Para pemburu dari luar Aceh ini mempunyai keahlian memasang jerat dengan berbagai modifikasi. Dari hanya memakai bahan yang ada di alam sampai bahan yang memang disediakan khusus dengan maksud memerangkap binatang yang diinginkan.
Dari beberapa temuan FKL, para binatang yang terperangkap tak ada yang langsung tewas di tempat. Kebanyakan terluka hingga menimbulkan penderitaan hingga beberapa hari atau bahkan minggu kemudian mati di tempat atau di kawasan sekitar perangkap.
Dari trap dipasang, ada beberapa binatang seperti gajah atau harimau yang tewas bukan di tempat pemasangan jerat. Perangkap yang dipasang bisa berbentuk kurungan, jebakan dengan pemasangan paku, jerat dengan kaitan broti dan banyak macam lainnya.
Ribuan jerat ini banyak makan korban, seperti saat Rakyat Aceh ikut patroli tim Bengkung FKL di SP Soraya. "Kami menemukan bangkai gajah di kawasan hutan Bengkung, Kota Subulussalam," Manager Wildlife Protection Team FKL, Dedi Yansyah.
Dikatakan Dedi Yansyah, gajah tersebut kakinya terkena perangkap yang dibandoli broti sekira seberat 100 kilogram. Binatang mamalia darat terbesar tersebut menyeret perangkap broti hingga akhirnya tewas sekira 200 meter dari lokasi awal. “Bisa dibayangkan penderitaan yang harus dilewati gajah ini hingga akhirnya tewas,” katanya.
Dikatakan, baru- baru ini mereka menemukan perangkap paku gajah. Alat ini menjadi ranjau untuk kaki gajah. Jika gajah itu melintas dan menginjak ranjau tersebut dipastikan hewan berbelalai itu akan terluka parah.
“Gajah tidak akan langsung mati, mungkin bisa beberapa bulan sampai dia mati karena tidak bisa mencari makan. Kami juga menemukan, dari pemasangan camera trap, pernah terlihat harimau yang pincang diduga terkena perangkap yang dipasang,” ungkapnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
