Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Juli 2017, 17.05 WIB

Bukan Karena Wabah Sarampa, Ini Pemicu Meninggalnya Puluhan Anak-anak Deiyei

Salah seorang petugas medis menyuntikan vaksin ke anak-anak untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit pasca kematian puluhan anak di Deiyai dalam beberapa bulan terakhir. - Image

Salah seorang petugas medis menyuntikan vaksin ke anak-anak untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit pasca kematian puluhan anak di Deiyai dalam beberapa bulan terakhir.

JawaPos.com - Meninggalnya puluhan anak-anak di Kabupaten Deiyei, Papua dipastikan bukan karena virus aneh atau sarampa. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklaim anak-anak di ujung timur Indonesia itu ada 27 anak meninggal dalam tempo tiga bulan terakhir. Bukan 40 orang.


Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Elizabeth Jane Soepardi menyebutkan bahwa 25 balita lainnya meninggal karena diare, radang paru-paru, disentri, gizi buruk, gigitan serangga, dan alergi. Paling banyak justru radang paru-paru yang mencapai sembilan balita. Terbanyak lainnya adalah diare yang diderita enam anak.


Namun, Jane mengakui bahwa cakupan imunisasi di Kabupaten Deiyai tiga tahun terakhir sangat rendah. "Tahun 2016 hanya 5,5 persen," ucapnya. Malah, pada 2014 tidak ada laporan sama sekali.


Jane mengungkapkan, masalah akses memang menjadi kendala utama di Papua. Akibatnya, beberapa program seperti imunisasi tidak bisa berjalan dengan baik. "Jalan trans-Papua yang baru sedang dibangun dan melintasi Kabupaten Deiyai. Ini membantu untuk membawa infrastruktur kesehatan," bebernya.


Ahli tropik-infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Erni Juwita Nelwan SpPD menyatakan, pihak terkait harus mengupayakan pencegahan penularan sarampa lebih lanjut. Meski, hanya ditemukan dua anak untuk kasus sarampa.


"Caranya dengan merawat anak yang sakit secara terpisah di ruang isolasi. Selain itu, pastikan vaksinasi sudah diberikan kepada orang sekitar anak yang sakit," sarannya.


Erni memang menyoroti pentingnya vaksinasi. Sebab, virus sarampa atau dikenal juga sebagai rubeola bisa dicegah dengan vaksin. "Penyakit tersebut bisa terlihat ringan, tetapi juga bisa menjadi serius," ucapnya.


Orang sekitar pun butuh divaksin lantaran mudahnya penularan penyakit tersebut. Hanya dari batuk, bersin, bahkan berbicara pun bisa menularkan virus itu. Penularan dapat terjadi bahkan sejak masa inkubasi atau belum bergejala sama sekali hingga empat hari setelah gejala muncul.


Masa inkubasi virus sarampa memang panjang, bisa mencapai dua minggu sebelum gejala muncul. Bahkan, orang sering mengabaikan karena gejala yang timbul begitu sepele. "Demam, batuk kering, sakit saat menelan, mata dan kulit memerah," ujar Erni. (lyn/yan/ade/tri/c17/ami)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore