Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 Mei 2017 | 09.20 WIB

Bukannya Orang Tua Sang Gadis, Para Sandera Ini Malah Minta Tebusan ke Pacar Korban

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com – Warga dilanda keresahan menyusul aksi penyanderaan dengan meminta tebusan uang yang mulai terjadi di Kota Ambon. Seperti yang dialami seorang gadis asal Desa Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) bernama Mujina Attamimi (21). Pada Senin (8/5) Mujina diinformasikan disandera oleh tiga orang pria. Gadis cantik yang akrab dipanggil Rina ini pun belum diketahui rimbanya.

Para pelaku penyanderaan menghubungi pacar korban lewat hand phone dan meminta tebusan sebesar Rp50 juta. Mujina diculik oleh tiga orang tak dikenal itu sekitar pukul 14.00 WIT dan kabarnya sampai sekarang masih disekap di kawasan Ahuru Ambon, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Ihsan Tiakoli yang adalah pacar korban mengisahkan, pada pukul 13.00 WIT, dia meminta Mujina untuk bertemu di Pasar Mardika, akan tetapi Mujina menunda pertemuan karena hendak bertemu temannya.

“Kami janjian ketemu di terminal jam satu siang, di saat bersamaan Mujina juga hendak bertemu temannya, saya katakan oke kalau sudah ketemu ikuti saya di Terminal,” akui Tiakoli kepada wartawan, sebagaimana dilansir dari Rakyat Maluku (Jawa Pos Group).

Namun sampai waktu yang ditentukan, Mujina tak kunjung tiba di tempat yang telah disepekati. Ironisnya pada pukul 16.00 WIT, sejumlah pesan pendek dengan nada mengancam malah masuk di ponsel milik Tiakoli.

Salah satunya, orang yang mengaku menculik gadis pujaan hatinya meminta tebusan uang sebesar Rp50 juta. Uang itu harus segera diserahkan pada pukul 18.00 WIT. Uang itu harus diserahkan di pertigaan jalan Ahuru-Air Besar.

Pihak yang mengaku menculik Mujina juga meminta Tiakoli agar tidak melaporkan kasus ini ke pihak Polisi, jika itu terjadi mereka tak segan-segan menggorok leher Mujina.

Tiakoli mengaku awalnya dia tidak merespon dan serius menanggapi pesan-pesan pendek yang dia terimanya. “Saya sempat tidak membalas pesan-pesan mereka. Namun saya diperdengarkan suara rintihan Mujina. Mujina meminta tolong kepada saya agar penuhi permintaan mereka. Itu yang membuat saya panik dan langsung melapor ke polisi,” tutur Tiakoli.

Pada pukul 18.00 WIT, Tiakoli bersama beberapa anggota Polsek Sirimau lalu bergegas ke lokasi yang dimintakan untuk menyerahkan uang tunai itu.

Tiba di pertigaan Ahuru-Air Besar, para penculik Mujina malah mematikan telepohone seluler milik Mujina. Tidak ada lagi komunikasi.

“Tapi yang membuat saya curiga itu ada yang bekerja sama dengan mereka, saat kami melewati jembatan Ahuru, ada pesan masuk ke saya yang mengatakan kenapa lapor polisi. Kok mereka tau kalau saya bersama polisi,” ujar Tiakoli.

Pantauan Rakyat Maluku, Tiakoli bersama anggota polisi dibantu beberapa warga Ahuru berusaha men­cari keberadaan Mujina hingga pukul 22. 00 WIT akan tetapi tak membuahkan hasil. Polisi juga sudah mendatangi kediaman keluarga Mujina di kawasan Gadihu, tetapi Mujina tidak berada di tempat itu.

Kasat Serse Polres Pulau Ambon dan PP Lease, AKP Teddy yang dikonfiormasi Rakyat Maluku, Selasa 9 Mei, mengakui dirinya belum mengetahui adanya kasus penyanderaan gadis cantik tersebut. (ari/aan/sad/JPG)

Editor: Muhammad Syadri
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore