Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 April 2017 | 13.06 WIB

Saya Takut Dipenjara

Yeni Amalia atau akrab disapa Windi memakai Krug - Image

Yeni Amalia atau akrab disapa Windi memakai Krug

JawaPos.com - Saat di persidangan, Yeni Amalia atau akrab disapa Windi,  berpakaian putih merah seragam SD. Bocah ini tampak begitu cemas dibandingkan sahabatnya, Ayu Wi diyaningsih. Sesekali bibir Windi, terlihat gemetar saat menjawab pertanyaan wartawan di Pengadilan Negeri (PN) Jember, Senin (17/4). Kaki kanan Windi masih di perban dari betis hingga paha. Sedangkan Ayu, hanya tinggal bekas luka di atas bibir bawah hidungnya. “Tapi kaki saya juga pernah luka. Sekarang sudah sembuh,” tutur Ayu dengan nada ceplas-ceplos layaknya anak sebayanya.


Saat ditanya kronologi kecelakaan yang menimpa keduanya, Windi, tegas meminta untuk tidak diingat lagi. Sepertinya dia trauma. Sedangkan Ayu, menjawab bahwa mereka berdua yang ditabrak mobil Yaris. “Tapi setelah itu saya tidak ingat. Karena sudah pingsan,” akunya. Bibir Windi, terus komatkamit. Sepertinya, bocah ber kerudung itu membaca doa-doa. Saat ditanya dengan nada pelan, dia mengaku tidak nyaman ada di pengadilan.


Dia takut. Sampai mengaku gemetaran. “Saya takut dipenjara,” katanya dengan polosnya. Soal ketakutan Windi, rupanya juga dirasakan Ayu. Dia yang saat kejadian membonceng Windi rupanya lebih takut dinilai bersalah. Apalagi, sampai putusan sidang memberinya sanksi. “Motornya milik orang tua Windi. Tapi saya yang nyetir,” ujar Ayu.


Ayu tak seberuntung Windi. Di pengadilan, Ayu hanya ditemani bapaknya yang sudah tua. Bahkan, penglihatan bapaknya sudah rabun. Saat ditanya ke mana ibunya, dia menjawab polos jika ibunya sedang keliling jualan gorengan. Sementara bapaknya, memang sedang nganggur karena tidak ada orang yang menyuruhnya bersih-bersih kebun.


Ayu anak warga miskin. Munadi - ayah Ayu, hanya bisa pasrah soal kasus kecelakaan yang me nimpa anaknya. Tidak bisa berbuat banyak, karena selain miskin dia mengaku buta huruf. Beruntung katanya, kedua orang tua Windi, tegas dan banyak di-back up keluarga besarnya. Pria buta huruf itu menaruh harapan besar pada Ayu.


Terlebih, Ayu dinilainya sebagai anak yang pandai di sekolahnya. Dia khawa tir, kasus yang sudah sampai di PN Jember, akan berpengaruh pada psikologis anaknya yang tak lama lagi akan menghadapi ujian akhir di sekolahnya. Kata Munadi, sejak kemarin anak nya sudah memasuki ujian praktik olahraga. Pulangnya sudah sampai pukul 14.00 setiap harinya. Bahkan karena ada panggilan sidang dipukul 13.00, anaknya harus izin pulang lebih awal pada gurunya. “Izinnya pakai surat pang gilan sidang,” akunya.


Sehingga tidak heran, Ayu di penga dilan masih mengenakan seragam olahraga dari sekolahnya. Sedangkan Windi, masih berpakai an seragam putih merah, kare na belum bisa mengikuti ujian prak tik disebabkan kakinya masih cedera. Munadi meyakini, kedua anak itu tidak bersalah. Meski demi ki an, tinggal di desa dan bermasalah dengan pengadilan, mem buat keluarganya tidak kuat me n tal ka rena malu. Maklum dia kuinya, seseorang yang berma salah hukum bagi warga desa, sudah dicap memi liki masalah dan seperti sudah bersalah. “Saya sudah tidak bisa apa-apa, kecuali pasrah,” katanya diucapkan berulang- ulang. (rul/c1/ras)

Editor: Soejatmiko
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore