
Gereja Oikumene, Samarinda, yang terkena teror bom.
JawaPos.com - Kemarin (20/11), genap sepekan peristiwa teror bom yang terjadi di Gereja Oikumene, Loa Janan Ilir, Samarinda. Aktivitas di gereja tersebut pun sudah terlihat normal kembali. Meski demikian, penjagaan ketat dari polisi dan TNI masih berlangsung.
Puluhan jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) terlihat khusyuk melakukan ibadah Minggu (20/11) di Gereja Oikumene, kemarin. Tak ada raut ketakutan dari mereka setelah gereja yang diresmikan pada 18 Maret 1981 itu diteror bom. Pengamanan aparat terlihat cukup ketat. Mereka berjaga di depan gereja di Jalan Cipto Mangunkusumo itu.
Kapolsekta Samarinda Seberang Kompol Bergas Hartoko menyebut, pihaknya menurunkan 10 personel dan dua dari Koramil Samarinda Seberang mengamankan kegiatan keagamaan tersebut.
“Kami juga dibantu warga sekitar serta beberapa relawan,” ungkapnya dikutip dari Kaltim Pos (Jawa Pos Group), Senin (21/11).
Sementara di dalam rumah ibadah tersebut, 11 baris kursi berderet tiga dipadati jemaat HKBP. Bahkan, saking penuhnya warga yang beribadah, ada yang duduk teras gereja yang tertutup sebuah papan besar.
Suara tangis bercampur tawa dari anak-anak yang hadir turut menyatu dengan doa-doa yang menggema seantero ruangan. Ayat demi ayat dilantunkan pendeta Elmun Rumahorbo.
Dia mengawal para jemaat yang begitu syahdu berdoa untuk tegar menerima duka yang terjadi dengan mengucap syukur dengan sukacita.
Duduk di baris depan kursi kedua, Anggiat Manupak Banjarnahor terlihat khidmat beribadah. Dengan sebuah buku yang tengah dibacanya, ayah dari Intan Olivia -korban bom yang tewas- itu menundukkan kepala hingga sejajar dengan bahu kursi yang tengah disandarinya.
Dua jam berselang, sejak ibadah dimulai pukul 08.00 Wita itu, ada prosesi lain yang dilakukan para jemaat HKBP yakni, berdoa sembari makan bersama. Anggiat memilih duduk di sisi paling kiri kala berhadapan dengan pendeta Elmun yang tengah memimpin jemaat berdoa.
Wajahnya belum menunjukkan keceriaan seutuhnya, sesekali tatapan nampak kosong saat doa dilantunkan.
“Adanya tiga ikan yang dimakan tersebut bermakna untuk bersama-sama menjalani hidup dalam kedamaian. Cukup sudah berbicara tentang yang lalu (kasus pengeboman) dan coba untuk bersyukur untuk apa yang telah terjadi,” ucap Elmun selepas acara kepada Kaltim Post.
Dia menambahkan, ibadah kali ini para jemaat ingin memfokuskan untuk memulihkan psikologi anak-anak terhadap kejadian sepekan lalu. “Jangan menunjukkan wajah sedih agar tak berimbas ke anak-anak,” ucapnya.
Sementara itu, Novi Boru Pandjaitan, salah seorang jemaat yang hadir mengaku tak takut akan teror yang sempat melanda. Menurut perempuan yang tinggal di kawasan Sungai Keledang itu, selain membaca puji-pujian Tuhan, ada pula doa yang ditujukan untuk korban.
“Kematian kan bukan sebuah akhir, tapi awal dari kehidupan yang baru,” ucapnya.
Sekitar pukul 14.00 Wita, Staf Khusus Kepresidenan RI, Lenis Kogoya berkunjung ke Gereja Oikumene. Didampingi Wakil Wali Kota Samarinda Nusyirwan Ismail, keduanya berkeliling dan bercerita dengan jemaat dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI).

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
