Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Agustus 2015 | 13.20 WIB

Modal Cuma 150 Ribu, Raup Hasil 10 Juta dalam 45 Hari, Mau?

Hasil budidaya rumput laut di Wakatobi. Foto: Asti Novalista/Kendari Pos/JawaPos.com - Image

Hasil budidaya rumput laut di Wakatobi. Foto: Asti Novalista/Kendari Pos/JawaPos.com

JawaPos.com--Kekayaan laut nusantara begitu berlimpah. Selain ikan, salah satu potensi yang belum terkelola dengan optimal yakni rumput laut. Namun di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, warga sudah menjadikan budidaya rumput laut sebagai salah satu mata pencahariannya.





Asti Novalista, Wakatobi





KABUPATEN Wakatobi sangat berpotensi untuk mengembangkan rumput laut. Budidaya tumbuhan ini dapat ditemukan di Desa Te’e Moane, Kecamatan Tomia. Di sini, mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani rumput laut.



Meskipun membutuhkan kerja ekstra, namun mereka dapat meraup pendapatan yang besar dari usaha tersebut. Hanya membutuhkan 45 hari, dengan modal Rp 150 ribu, masyarakat Tomia bisa mengantongi hasil panen senilai Rp 10 juta.



Dengan modal tali nilon dan pelampung dari botol bekas air mineral, petani rumput laut sudah bisa memulai usahanya. Namun, tantangan yang dihadapi, para petani itu harus berjaga-jaga di sekitar kawasan pengembangan rumput laut itu. Banyak persoalan yang mengancam kegagalan panen, termasuk sepak terjang para pencuri rumput laut.



Sala seorang petani rumput laut Desa Te'ne Moane, La Basiru (55) bercerita, ia terkadang harus tinggal di laut selama 45 hari lamanya. Sejak musim pembibitan sampai panen, kawasan penanaman rumput lautnya diawasi ketat.



Ia terkadang kembali ke rumah hanya untuk mengambil kebutuhan logistik, makan, dan mandi. Selain menjaga dari tangan jahil, perawatan terus dilakukan untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal.



"Kalau bagus rumput lautnya, hasilnya memuaskan. Bisa mencapai hasil 1 ton. Hasil penjualannya mencapai Rp 10 juta lebih," ungkap La Basiru.



Dalam menjalankan usahanya, La Basiru hanya membutuhkan modal Rp 150 ribu. Ia memulai penanaman dengan menyiapkan 200 utas tali, masing-masing dengan panjang 25 meter, dan bibit.



Penanaman rumput laut tidak mengenal musim.  Musim hujan yang disertai angin kencang dinilai sebagai musim terbaik untuk memulai usaha, karena akan menghasilkan rumput laut yang bagus, dan besar-besar.



“Beda kalau cuaca panas karena bisa menyebabkan kerusakan. Tapi pastinya kami tidak rugi, hanya hasilnya kurang,” tambah Wa Putri, istri La Basiru.



Tenaga ekstra yang dibutuhkan dalam pengembangan rumput laut yakni saat penanaman. Mereka harus menggaji orang lain untuk membantu pemasangan tali dan mengikat bibit. Untuk seutas tali dengan panjang 25 meter akan diupah dengan Rp 3 ribu.



 "Hasil penjualan rumput laut memang memuaskan. Kami biasa panen sampai 1 ton. Untuk rumput laut kering, harganya mencapai Rp 12 ribu per kilogram," kata Wa Putri. Bagaimana, Anda berminat?  (*/c/jpg)

Editor: Ronald
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore