
Hasil budidaya rumput laut di Wakatobi. Foto: Asti Novalista/Kendari Pos/JawaPos.com
JawaPos.com--Kekayaan laut nusantara begitu berlimpah. Selain ikan, salah satu potensi yang belum terkelola dengan optimal yakni rumput laut. Namun di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, warga sudah menjadikan budidaya rumput laut sebagai salah satu mata pencahariannya.
Asti Novalista, Wakatobi
KABUPATEN Wakatobi sangat berpotensi untuk mengembangkan rumput laut. Budidaya tumbuhan ini dapat ditemukan di Desa Te’e Moane, Kecamatan Tomia. Di sini, mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani rumput laut.
Meskipun membutuhkan kerja ekstra, namun mereka dapat meraup pendapatan yang besar dari usaha tersebut. Hanya membutuhkan 45 hari, dengan modal Rp 150 ribu, masyarakat Tomia bisa mengantongi hasil panen senilai Rp 10 juta.
Dengan modal tali nilon dan pelampung dari botol bekas air mineral, petani rumput laut sudah bisa memulai usahanya. Namun, tantangan yang dihadapi, para petani itu harus berjaga-jaga di sekitar kawasan pengembangan rumput laut itu. Banyak persoalan yang mengancam kegagalan panen, termasuk sepak terjang para pencuri rumput laut.
Sala seorang petani rumput laut Desa Te'ne Moane, La Basiru (55) bercerita, ia terkadang harus tinggal di laut selama 45 hari lamanya. Sejak musim pembibitan sampai panen, kawasan penanaman rumput lautnya diawasi ketat.
Ia terkadang kembali ke rumah hanya untuk mengambil kebutuhan logistik, makan, dan mandi. Selain menjaga dari tangan jahil, perawatan terus dilakukan untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal.
"Kalau bagus rumput lautnya, hasilnya memuaskan. Bisa mencapai hasil 1 ton. Hasil penjualannya mencapai Rp 10 juta lebih," ungkap La Basiru.
Dalam menjalankan usahanya, La Basiru hanya membutuhkan modal Rp 150 ribu. Ia memulai penanaman dengan menyiapkan 200 utas tali, masing-masing dengan panjang 25 meter, dan bibit.
Penanaman rumput laut tidak mengenal musim. Musim hujan yang disertai angin kencang dinilai sebagai musim terbaik untuk memulai usaha, karena akan menghasilkan rumput laut yang bagus, dan besar-besar.
“Beda kalau cuaca panas karena bisa menyebabkan kerusakan. Tapi pastinya kami tidak rugi, hanya hasilnya kurang,” tambah Wa Putri, istri La Basiru.
Tenaga ekstra yang dibutuhkan dalam pengembangan rumput laut yakni saat penanaman. Mereka harus menggaji orang lain untuk membantu pemasangan tali dan mengikat bibit. Untuk seutas tali dengan panjang 25 meter akan diupah dengan Rp 3 ribu.
"Hasil penjualan rumput laut memang memuaskan. Kami biasa panen sampai 1 ton. Untuk rumput laut kering, harganya mencapai Rp 12 ribu per kilogram," kata Wa Putri. Bagaimana, Anda berminat? (*/c/jpg)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
