KEPERAKAN: Pengunjung melihat karya Hanafi berjudul Di Balik Tragedi. Karya ini terinspirasi dari protes warga Wadas, Purworejo.
Kumpulan garis yang ditorehkan pelukis Hanafi Muhammad di media kanvas dan kertas berbeda dari pelukis aliran abstrak lainnya. Pelukis asal Purworejo, Jawa Tengah, itu mengatakan, garis-garis tersebut tidak ’’dijadikan’’ dengan sengaja, namun terjadi dengan sendirinya.
RATUSAN lukisan Hanafi yang lahir dari ’’kehendak alam’’ itu hadir dalam pameran bertajuk Af+ermasks. Pameran tersebut digelar mulai 13 Maret hingga 12 April mendatang di Jogja National Museum (JNM) Jogja.
Af+ermasks merupakan buah pemikiran dan pengalaman Hanafi selama pandemi Covid-19. Lebih dari 100 lukisan dipamerkan di tiga lantai gedung JNM yang memiliki sejarah tersendiri baginya. Setelah 47 tahun, Hanafi seperti pulang kembali ke Jogja.
Hanafi memang punya ikatan emosional dengan lokasi pamerannya saat ini. Hanafi menjadi pelajar di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) yang ada di kompleks Gampingan periode 1976–1979.
Selain itu, kompleks JNM di Gampingan menjadi lokasi pendidikan seni rupa pertama di Indonesia, Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). ASRI ini merupakan cikal bakal berdirinya Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja.
Nah, dalam pameran tersebut, Hanafi menekankan bahwa garis-garis itu sudah semestinya lahir dan mengada. Tidak direncanakan, apalagi dikonsep. Semacam sudah diperintahkan oleh alam. Bahwa melalui tangannya, lukisan itu mengada dengan pasti.
’’Tepatnya sebuah kemestian. Bahwa kalau yang sudah mesti, akhirnya saya berhitung bahwa itu tidak kurang dan tidak lebih. Jadi, ada sebuah kemestian dari alam, daulat dari alam yang menghendaki garis itu memang seperti itu,’’ kata Hanafi bulan lalu (21/3).
BERBEDA: Karya Hanafi bertajuk Sarung-Stimulanism terinspirasi dari sang ayah.
Bukannya mau mistis atau bicara klenik, Hanafi meyakini dirinya digerakkan oleh sebuah daya dari dalam tubuhnya. Ada campur tangan alam pada setiap karya yang dihasilkan. Sebab, menurutnya, melukis bukan sekumpulan teknik yang harus dilampaui.
’’Otomatis yang di-direct dari dalam. Alam menuntun kita untuk membuat sebuah garis, ya kemestian tadi,’’ ujar Hanafi.
Puluhan tahun bergelut dengan garis-garis abstrak tak beraturan, Hanafi mengaku tidak pernah merasa lukisannya sesuai dengan pikirannya. Selalu ada ketidakpuasan dalam setiap karyanya. Hal itulah yang kemudian membuatnya terus melukis. Ketidakpuasan dan ketidaksesuaian bak amunisi penting.
’’Jadi kalau saya puas, tentu saja saya tidak akan membuat atau menciptakan lagi. Itu akan jauh lebih berat. Tapi, ketidakpuasan ini seperti dorongan untuk dinamika kembali, me-refresh kembali,’’ jelas Hanafi.
Pameran tunggal Hanafi kali ini memiliki tiga tema. Pada lantai 1 gedung JNM, tersaji Sarung Basah Ayah yang merupakan alusi Hanafi kepada sosok bapaknya, seorang veteran tentara, guru mengaji yang menjahit sarung untuk dijual.
Lantai 2 menyajikan Developmentalism/Wadas yang merupakan wujud empati Hanafi sebagai warga Purworejo kepada ’’para sedulur’’ di tanah kelahirannya. Kemudian, di lantai 3 tersaji buah pikirnya pada pandemi Covid-19.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
