
BERBAGI PENGALAMAN: Nofi Fadilla dan Syafrizal Izaqi dalam talk showdi Subsitute Makerspace, Sabtu (1/2). (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
JawaPos.com - Pesta pernikahan umumnya dibuat mewah atau unik karena menjadi pesta sekali seumur hidup. Namun, perayaan yang butuh dana tidak sedikit tersebut ternyata juga diikuti dengan masalah sampah setelah pesta berakhir. Itulah yang dibahas dalam talk show dan brand launching How to Organize a Minimal Waste Wedding di Substitute Makerspace kemarin (1/2).
Dalam talk show pagi itu, beberapa narasumber dihadirkan. Tidak terkecuali mereka yang menerapkan konsep minimal waste wedding, Syafrizal Izaqi dan Nofi Fadilla. Pasangan yang menikah pada Juni 2019 tersebut bercerita tentang cara mereka merancang pernikahan sampai mengatur sampah pascapesta.
’’Dari persiapan pernikahan, biasanya bujet untuk katering ini yang paling bengkak dan yang menimbulkan paling banyak sampah,’’ ungkap Nofi.
Namun, dari pengalamannya, dia berbagi satu rumus yang menurutnya wajib diaplikasikan dalam resepsi pernikahan. Rumusnya adalah (jumlah undangan x 2) – 10% dari (jumlah undangan x 2). ’’Rumus ini berlaku, baik untuk yang menggunakan jasa katering maupun masak sendiri. Rumus ini bisa banget meminimalkan porsi makanan dan minuman yang terbuang nanti,’’ katanya.
Namun, jika nanti makanan itu masih saja menyisakan banyak sampah, Zaqi punya solusinya. ’’Bisa dijadikan pupuk kompos. Bisa juga untuk makanan ikan, dicampurkan dedak makanan bebek. Bagi yang tinggal di kota dan nggak ada hewan ternak, bisa donasi ke selter hewan liar,’’ jelas Zaqi.
Selain masalah sisa makanan, sampah pernikahan juga banyak berasal dari undangan dan suvenir. Sering kali undangan pernikahan hanya dibuang setelah dibaca. Bahkan, kalau tidak sempat diantarkan, undangan akan berujung difoto dan dikirimkan lewat chatting. ’’Berdasar pengalaman kami, undangan di-share di akun media sosial. Hanya beberapa yang dicetak buat teman-teman orang tua,’’ cerita Zaqi.
Namun, yang sudah dicetak pun tidak berhenti sampai di situ. Nofi dan Zaqi sepakat bahwa undangan harus bisa dimanfaatkan lagi setelah acara usai. ’’Jadi, bagian belakang diberi gambar kalender yang sudah ada tanda-tandanya biar bisa dimanfaatkan lagi,’’ terangnya.
Berbeda lagi dengan pengalaman Gita Prayitno yang juga menerapkan konsep minimal waste dalam pernikahannya. Perempuan yang juga founder platform wedding Manuall.e itu bercerita bahwa dirinya menyebarkan undangan pernikahannya lewat website. ’’Tapi, setelah pernikahan usai, saya berdayakan lagi website itu menjadi sebuah blog untuk berbagi tip dan trik,” ujarnya.
Selain undangan, suvenir menjadi poin selanjutnya. Menurut dia, alangkah baiknya memberikan suvenir yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan zero waste lainnya. Misalnya, sedotan bambu, sendok-garpu kayu, atau semacamnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
