Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Juni 2023 | 19.32 WIB

ArtOs Nusantara: Terobosan Kuratorial Pameran, Visi Tumbuhkan Lokus Baru Seni Rupa Indonesia

BAHAGIA: Musisi cilik Farel Prayoga (kiri) dan adiknya menduplikasi lukisan Suit karya Rendra Sanjaya di ArtOs Nusantara, Bayuwangi.

Setelah sukses menghelat pameran seni rupa ArtOs Kembang Langit pada 2021, Yayasan Langgar Art, Banyuwangi, kembali menggeber ArtOs Nusantara. Sama dengan pameran pertama, pameran kedua (20–28 Mei 2023) menjadi buah bibir di jagat seni rupa Indonesia. Berikut wawancara Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi dengan kurator pameran ArtOs Nusantara I Wayan Seriyoga Parta (founder Gurat Institute), kurator independen yang proaktif menginisiasi pergerakan seni rupa pada arus pinggir di daerah-daerah di luar arus utama seni rupa Indonesia.

MENURUT Anda, bagaimana potensi seni rupa Banyuwangi?

Melihat perkembangan seni rupa Banyuwangi tidak mudah. Banyak senimannya yang justru tumbuh dan besar di luar daerah. Tapi, ada satu hal yang menarik, yakni ulang-alik Banyuwangi dengan Bali. Sebagian besar seniman Banyuwangi memulai karier melukis dari Bali. Sebut saja Awiki, Huang Fong, dan S. Yadi K. hingga generasi mudanya seperti Haruman Huda, Abdul Rohim, Windu Pamor, Suryantara, dan masih banyak lagi. Mereka tumbuh dari perkembangan seni rupa Bali yang ditopang pariwisata budaya. Bali adalah pasar besar produk kreatif, terutama seni lukis.

Pelukis S. Yadi menuturkan kepada saya bahwa Bali merupakan rumah bagi pembelajaran keseniannya sedari sangat belia. Di Pulau Dewata, dia belajar seni lukis sekaligus seni kehidupan. Pengalaman itu cerminan sebagian besar seniman Banyuwangi. Mereka ulang-alik antara Banyuwangi dan Bali. Hubungan ini sesungguhnya bukanlah sesuatu yang terjadi baru-baru ini saja. Jika menengok ke belakang dalam rentang sejarah, hubungan Bali dan Banyuwangi atau Blambangan sangat erat. Misalnya, Raja Bali Utara Panji Sakti dari Kerajaan Mengwi yang telah berkoalisi ”menguasai” poros perdagangan Selat Bali sampai abad ke-18.

Banyuwangi kini punya pameran Art Osing (ArtOs). Tahun ini telah memasuki perhelatan kedua dengan titel ArtOs Nusantara. Sebagai kurator ArtOs Nusantara, bagaimana Anda mempersiapkan pameran besar itu?

Menimbang kompleksitas dan jangkauan yang harus dipetakan serta waktu yang tidak cukup panjang untuk melakukan riset kuratorial, kami dewan kurator melakukan kerja kuratorial dengan mekanisme penggabungan penjaringan terbuka (open call selection) dan tertutup (closed selection) untuk menyeleksi dengan cukup ketat pengajuan karya dari seniman yang jumlahnya sekitar 150 karya.

Berdasar pengajuan yang masuk, tidak banyak yang dapat kami pilih. Hanya sekitar 25 set karya yang kami nyatakan lolos. Dari para seniman yang terpilih, tidak semua karyanya langsung diterima. Mereka masih kami beri tantangan. Yakni, membuat karya terbaru untuk menafsirkan tema pertemuan dan keterhubungan budaya. Hingga proses konfirmasi akhir, ada beberapa seniman yang tidak dapat menyelesaikan karya terbarunya. Mereka memilih mundur dan tidak sampai terlibat dalam pameran.

Fenomena lainnya apa lagi?

Fenomena yang juga menarik adalah kesadaran seniman yang mengeksplorasi media seni lukis. Misalnya, membuat cat minyak dan akrilik secara eksperimentatif sebagaimana yang dilakukan pelukis almarhum Mozes Misdy.

Kebetulan, dalam pameran ArtOs kali kedua ini, kami mendaulat S. Yadi K. sebagai seniman undangan utama dari Banyuwangi. Sebab, terobosan teknik yang dilakukannya selama puluhan tahun sangat menginspirasi. Capaian karya-karyanya melampuai eksplorasi artistik dan dia menemukan kekhasan nilai estetis. Sudah lama karya-karyanya memasuki wacana seni kontemporer.

Apa temuan lain dari kerja kurasi ArtOs selama lebih dari enam bulan?

Temuan lain dari kerja kurasi ArtOs Nusantara adalah kehadiran seniman-seniman muda seperti Maharastra yang masih SMA, Galang Aji, dan Krisna Jiwangi ”Jibon”. Serta kelompok seniman muda lintas disiplin yang tergabung dalam Meja Perjamuan. Mereka hadir dengan gagasan mempersoalkan kembali simbol (naga berkepala tokoh pewayangan Gatot Kaca) dalam karya instalasi yang menggabungkan drawing di kanvas, patung naga dari bahan bambu, dan video yang diinstal di dalam ruang pameran.

ArtOs memang memberikan ruang regenerasi untuk menghadirkan para seniman muda potensial dari Banyuwangi. Saya yakin, dengan diberi ruang, seniman muda akan membawa geliat perubahan yang bisa jadi lebih ”radikal’’ bagi perkembangan seni rupa Banyuwangi di masa depan.

Kenapa ArtOs Nusantara tidak jadi memakai Gedung Juang sebagai lokasi pameran, tapi memilih Gedung Tua di Pantai Marina Boom?

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore