BAHAGIA: Musisi cilik Farel Prayoga (kiri) dan adiknya menduplikasi lukisan Suit karya Rendra Sanjaya di ArtOs Nusantara, Bayuwangi.
Setelah sukses menghelat pameran seni rupa ArtOs Kembang Langit pada 2021, Yayasan Langgar Art, Banyuwangi, kembali menggeber ArtOs Nusantara. Sama dengan pameran pertama, pameran kedua (20–28 Mei 2023) menjadi buah bibir di jagat seni rupa Indonesia. Berikut wawancara Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi dengan kurator pameran ArtOs Nusantara I Wayan Seriyoga Parta (founder Gurat Institute), kurator independen yang proaktif menginisiasi pergerakan seni rupa pada arus pinggir di daerah-daerah di luar arus utama seni rupa Indonesia.
MENURUT Anda, bagaimana potensi seni rupa Banyuwangi?
Melihat perkembangan seni rupa Banyuwangi tidak mudah. Banyak senimannya yang justru tumbuh dan besar di luar daerah. Tapi, ada satu hal yang menarik, yakni ulang-alik Banyuwangi dengan Bali. Sebagian besar seniman Banyuwangi memulai karier melukis dari Bali. Sebut saja Awiki, Huang Fong, dan S. Yadi K. hingga generasi mudanya seperti Haruman Huda, Abdul Rohim, Windu Pamor, Suryantara, dan masih banyak lagi. Mereka tumbuh dari perkembangan seni rupa Bali yang ditopang pariwisata budaya. Bali adalah pasar besar produk kreatif, terutama seni lukis.
Pelukis S. Yadi menuturkan kepada saya bahwa Bali merupakan rumah bagi pembelajaran keseniannya sedari sangat belia. Di Pulau Dewata, dia belajar seni lukis sekaligus seni kehidupan. Pengalaman itu cerminan sebagian besar seniman Banyuwangi. Mereka ulang-alik antara Banyuwangi dan Bali. Hubungan ini sesungguhnya bukanlah sesuatu yang terjadi baru-baru ini saja. Jika menengok ke belakang dalam rentang sejarah, hubungan Bali dan Banyuwangi atau Blambangan sangat erat. Misalnya, Raja Bali Utara Panji Sakti dari Kerajaan Mengwi yang telah berkoalisi ”menguasai” poros perdagangan Selat Bali sampai abad ke-18.
Banyuwangi kini punya pameran Art Osing (ArtOs). Tahun ini telah memasuki perhelatan kedua dengan titel ArtOs Nusantara. Sebagai kurator ArtOs Nusantara, bagaimana Anda mempersiapkan pameran besar itu?
Menimbang kompleksitas dan jangkauan yang harus dipetakan serta waktu yang tidak cukup panjang untuk melakukan riset kuratorial, kami dewan kurator melakukan kerja kuratorial dengan mekanisme penggabungan penjaringan terbuka (open call selection) dan tertutup (closed selection) untuk menyeleksi dengan cukup ketat pengajuan karya dari seniman yang jumlahnya sekitar 150 karya.
Berdasar pengajuan yang masuk, tidak banyak yang dapat kami pilih. Hanya sekitar 25 set karya yang kami nyatakan lolos. Dari para seniman yang terpilih, tidak semua karyanya langsung diterima. Mereka masih kami beri tantangan. Yakni, membuat karya terbaru untuk menafsirkan tema pertemuan dan keterhubungan budaya. Hingga proses konfirmasi akhir, ada beberapa seniman yang tidak dapat menyelesaikan karya terbarunya. Mereka memilih mundur dan tidak sampai terlibat dalam pameran.
Fenomena lainnya apa lagi?
Fenomena yang juga menarik adalah kesadaran seniman yang mengeksplorasi media seni lukis. Misalnya, membuat cat minyak dan akrilik secara eksperimentatif sebagaimana yang dilakukan pelukis almarhum Mozes Misdy.
Kebetulan, dalam pameran ArtOs kali kedua ini, kami mendaulat S. Yadi K. sebagai seniman undangan utama dari Banyuwangi. Sebab, terobosan teknik yang dilakukannya selama puluhan tahun sangat menginspirasi. Capaian karya-karyanya melampuai eksplorasi artistik dan dia menemukan kekhasan nilai estetis. Sudah lama karya-karyanya memasuki wacana seni kontemporer.
Apa temuan lain dari kerja kurasi ArtOs selama lebih dari enam bulan?
Temuan lain dari kerja kurasi ArtOs Nusantara adalah kehadiran seniman-seniman muda seperti Maharastra yang masih SMA, Galang Aji, dan Krisna Jiwangi ”Jibon”. Serta kelompok seniman muda lintas disiplin yang tergabung dalam Meja Perjamuan. Mereka hadir dengan gagasan mempersoalkan kembali simbol (naga berkepala tokoh pewayangan Gatot Kaca) dalam karya instalasi yang menggabungkan drawing di kanvas, patung naga dari bahan bambu, dan video yang diinstal di dalam ruang pameran.
ArtOs memang memberikan ruang regenerasi untuk menghadirkan para seniman muda potensial dari Banyuwangi. Saya yakin, dengan diberi ruang, seniman muda akan membawa geliat perubahan yang bisa jadi lebih ”radikal’’ bagi perkembangan seni rupa Banyuwangi di masa depan.
Kenapa ArtOs Nusantara tidak jadi memakai Gedung Juang sebagai lokasi pameran, tapi memilih Gedung Tua di Pantai Marina Boom?

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
